< >

Tinggi Permintaan Kopi Arabika dari Aceh

Kamis, 05 April 2007 22:12
Kapanlagi.com - Tinggi permintaan biji kopi jenis arabika produk petani Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), di luar negeri terutama di pangsa pasar Amerika Serikat, Jepang dan Timur Tengah.

"Dalam beberapa tahun terakhir banyak negara yang menginginkan pasokan biji kopi arabika asal Aceh, sehingga kita kewalahan memenuhi permintaan," kata Direktur PD Geunap Mufakat, H Taufiq MS di Banda Aceh, Kamis.

Bahkan, tambahnya, salah seorang pengusaha Mesir telah menyatakan minatnya untuk mengimpor biji kopi yang dihasilkan dari perkebunan masyarakat di dataran tinggi "Gayo" yakni Aceh Tengah dan Bener Meriah.

"Itu adalah peluang yang harus kita raih. Saya sudah berjanji akan memenuhi permintaan pasar di Mesir. Namun, permintaan itu belum bisa kita penuhi dalam waktu dekat, sebab produk kopi petani di dua kabupaten tersebut sedang menurun," kata Taufiq MS.

Dia menjelaskan, PD Geunap Mufakat, yang merupakan satu-satunya perusahaan daerah yang bergelut bidang penampungan dan pemasaran kopi masyarakat setiap bulannya berhasil mengekspor rata-rata dua kontainer atau sekitar 40 ton biji kopi ke berbagai negara tujuan.

Taufiq menyebutkan, harga kopi biji jenis arabika asal Aceh yang di ekspor ke luar negeri itu mencapai sekitar Rp35 ribu atau 3,5 dolar Amerika Serikat (AS) per-kilogram, dengan kandungan air 18 persen.

Ditambahkan, para konsumen luar negeri cenderung lebih berminat terhadap kopi biji organik asal Aceh Tengah dan Bener Meriah, dibandingkan produk dihasilkan dari tanaman yang menggunakan pupuk campuran bahan kimia.

"Produk yang dihasilkan dari kebun kopi rakyat itu sebagian besar dihasilkan dari kebun rakyat di Aceh Tengah dan Bener Meriah itu tidak tersentuh bahan kimia, sehingga harga jual dipasaran luar negeri juga tinggi," tambah dia.

Dipihak lain, dia mengatakan, rendahnya produk kopi biji masyarakat pada musim panen 2007

itu sebenarnya sangat menguntungkan petani, karena permintaan pasar luar yang tidak berkurang dan mengakibatkan harga jual tinggi.

Taufiq MS, menjelaskan, total luas areal perkebunan kopi masyarakat di Aceh Tengah dan Bener Meriah mencapai sekitar 70 ribu hektare, tersebar merata hampir di seluruh desa di wilayah tengah provinsi ujung paling barat Indonesia itu. (*/rsd)