"Kebijakan ini diterapkan dengan melihat kenyataan bahwa sebanyak 50-60 persen pelanggan Telkom membayar tagihannya pada tanggal 18-20 setiap bulannya," ucap Executive General Manager Telkom Divre V Jatim, Nanang Ismail Kosim, di Surabaya, Rabu.
Artinya, lanjutnya, pada tanggal-tanggal tersebut pasti antrean akan memuncak, karena 89 persen dari pelanggan Telkom lebih suka membayar dengan datang langsung ke loket Telkom maupun bank yang bekerja sama sebagai mitra System Online Payment Point (SOPP).
Sedangkan selebihnya melalui Auto debet sebanyak lima persen, ATM empat persen, internet banking dan phone banking masing-masing hanya satu persen.
Menurut dia, antrean panjang dan kepadatan di setiap loket pembayaran menjelang tanggal 20, membuat pelanggan tidak bisa merasakan pelayanan terbaik yang diberikan Telkom.
Dampak lainnya, kata Nanang, sistem pembayaran bekerja "overload" dan lambat. "Inilah kondisi dimana pelanggan menjadi tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya," ucapnya.
Telkom Divre V Jatim saat ini telah menyediakan fasilitas pembayaran dalam jumlah cukup memadai, melalui kerja sama dengan 34 mitra perbankan, seluruh "outlet" (gerai) Koperasi Telkom dan PT Pos Indonesia.
Dengan kerja sama itu, pelanggan bisa memperoleh pilihan mode pembayaran, tidak harus datang ke loket, tapi juga melalui "auto debit", ATM, "internet banking" maupun "mobile banking".
Lebih lanjut Nanang mengungkapkan, guna meningkatkan layanan kepada pelanggan, mulai 1 April 2007 Telkom telah melakukan perubahan layanan dalam waktu pengisoliran atau pemblokiran fasilitas telekomunikasi.
"Keterlambatan pembayaran tanggal 1 sampai tanggal 20 bulan N+2 yang sebelumnya sudah harus diputus, per 1 April hanya kami isolir total," papar Nanang, menambahkan. (*/rit)