Kasus DBD Diperkirakan Capai 125 Ribu Selama 2007
Kapanlagi.com - Tanpa intervensi yang memadai kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di seluruh Indonesia diperkirakan mencapai 125 ribu selama 2007, meningkat dari tahun 2006 yang total sebanyak 113.640 kasus dan 1.184 diantaranya berakibat kematian. "Tahun 2007 kasus DBD diestimasi mencapai 125 ribu kalau tidak dilakukan intervensi memadai," kata Kepala Subdit Arbovirosis Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Rita Kusriastuti di Jakarta, Kamis. Menurut Rita, estimasi itu diperoleh dari hasil analisis regresi dan korelasi data angka kejadian DBD dan curah hujan tahunan dalam 10 tahun yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan bersama Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). "Dan kemungkinan itu memang bisa terjadi karena selama Januari hingga awal April 2007 saja jumlah kasus DBD nasional sudah 56.180 kasus," katanya pada acara diskusi bulanan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dengan pokok bahasan penanggulangan DBD. Beberapa daerah seperti DKI Jakarta dan sejumlah kabupaten/kota di Jawa Barat dan Lampung saat ini juga sudah dinyatakan sebagai daerah dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD karena mengalami peningkatan kasus DBD secara bermakna. Lebih lanjut Rita menjelaskan, untuk mengantisipasi ledakan kasus DBD tersebut pemerintah akan terus melakukan upaya promosi, pencegahan dan penanggulangan DBD secara berlanjut untuk mengendalikan penularan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue tersebut. "Karena pada dasarnya konsep penanggulangan yang ada sudah bagus," katanya. Ia menjelaskan, program tersebut meliputi surveilans epidemiologi, pemberantasan vektor (perantara penyakit), penatalaksanaan kasus, penyuluhan, pembangunan kemitraan, peningkatan peran serta masyarakat, pelatihan dan penelitian. Surveilans penyakit, kata dia, dilakukan dengan meminta laporan kasus dari rumah sakit dan saran kesehatan sedangkan surveilans vektor dilakukan dengan melakukan penelitian epidemiologi di daerah jangkitan DBD. "Surveilans vektor dilakukan oleh petugas kesehatan, juru pemantau jentik, tim pemberantasan nyamuk sekolah dan masyarakat. Indikatornya Angka Bebas Jentik (ABJ)," katanya. Menurut dia, surveilans penyakit dan vektor memegang peranan yang sangat penting dalam upaya pengendalian penularan DBD. "Tapi sayangnya ini belum berjalan dengan baik. Karena berbagai alasan petugas Puskesmas yang seharusnya melakukan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya," katanya. Masyarakat pun, kata dia, belum memiliki kesadaran untuk melakukan pemantauan jentik di rumah serta lingkungan sekitar tempat tinggalnya masing-masing. Kegiatan lain seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M plus (menguras, menutup rapat, mengubur tempat penampung air dan menaburkan larvasida pada tempat penampung air-red), kata dia, juga terus digiatkan. Penyemprotan insektisida untuk membunuh nyamuk Aedes Aegypti dewasa, kata dia, juga dilakukan namun hanya difokuskan pada lokasi yang dinilai sebagai daerah perkembangbiakan nyamuk penyebab demam berdarah. "Itu diketahui dari hasil penelitian epidemiologi di lokasi pasien tersangka DBD," kata Rita serta menambahkan bahwa yang terpenting dalam penanggulangan DBD adalah PSN dan partisipasi aktif masyarakat dalam melaksanakan kegiatan tersebut. (*/cax) |