< >

Indonesia Masih Jadi Eksportir Terbesar Pinang

Jum'at, 13 April 2007 16:58
Kapanlagi.com - Indonesia masih tetap menjadi negara pengekspor pinang terbesar dunia dengan volume ekspor sudah mencapai 90 ribu ton pada tahun lalu, kata eksportir pinang Sumatera Utara, Arianto, di Medan, Jumat.

Presdir CV.Biola Jaya, Arianto, mengatakan, negara produsen pinang lainnya seperti Thailand dan India, ekspornya masih sangat kecil akibat pertumbuhan produksinya yang lamban menyusul lahan pengembangan yang terbatas.

Ekspor pinang Indonesia diperkirakan masih akan terus naik lagi pada tahun-tahun mendatang karena petani di beberapa daerah seperti Riau dan Aceh tertarik dan terus mengembangkan tanaman pinang tersebut setelah melihat peluang ekspor dengan harga jual yang lumayan menguntungkan, katanya.

Produksi pinang Indonesia dewasa ini sudah 110 ribu ton per tahun dari tahun 1980 an yang masih berkisar 20 ribu ton dan ekspor sekitar 15 ribu ton pada tahun 1985.

Negara tujuan ekspor pinang Indonesia terbesar ke India, Nepal, Pakistan, Malaysia, Singapura dan termasuk ke Thailand yang bersama India juga merupakan negara produsen komoditi itu.

Ekspor pinang Indonesia itu sendiri hingga dewasa ini juga masih terbesar dari Sumut meski sebagian besar pasokannya berasal dari Aceh dan Riau.

Meski harga jual pinang masih menguntungkan, tapi harga ekspor komoditi itu sejak 15 Maret 2007 mengalami sedikit tekanan akibat India menaikkan pajak impor pinang dari Indonesia menjadi 900 dolar AS per ton dari 300 dolar AS per ton sebelumnya.

Akibat kenaikan pajak impor pinang di India itu, eksportir Indonesia tidak bisa mengekspor ke negara itu karena harga jual di bawah harga pajak impor tersebut.

"Karena tidak bisa masuk ke India, eksportir terpaksa hanya menjual ke Nepal dan ke negara lainnya dan kondisi itu dimanfaatkan importir untuk menekan harga beli dari Indonesia," katanya.

Harga ekspor pinang Indonesia hingga pekan ini tinggal 725 dolar AS per ton dari harga jual sebelumnya yang rata-rata 800 dolar AS per ton.

Akibat harga ekspor turun, maka harga jual di dalam negeri ikut tertekan dari Rp6.000 dan Rp6.500 per kg menjadi 5.500 per kg. (*/rit)