"Itulah masalah yang masih kita hadapi. Namun demikian kita sudah sanggup memproduksi mesin tekstil yang sederhana," katanya ketika ditemui setelah memberikan pemaparan dalam Rapat Koordinasi BUMN, di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan, sektor tekstil adalah salah satu unggulan Indonesia. Sektor industri tekstil, kulit dan alas kaki penyumbang signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB).
Berdasarkan data dari BPS yang diolah oleh Pusat Data Departemen Perindustrian, kontribusi sektor tersebut pada PDB yaitu 12,99 persen pada 2004, 12,20 persen pada 2005 (angka sementara) dan 11,91 persen pada 2006.
Sedangkan perkembangan ekspor non migas yaitu untuk tekstil dan produk tekstil 9,4 juta dolar Amerika, dibandingkan tahun 2005 yang hanya mencapai 8,6 juta dolar Amerika.
Peningkatan perkembangan, ini, kata Fahmi masih diiringi dengan permasalahan aktual pada industri tekstil dan produk tekstil yaitu mesin-mesin tekstil yang sudah tua, keterbatasan industri bahan baku dan industri pendukung, masih maraknya penyelundupan, serta ketatnya persaingan di pasar ekspor setelah skema kuota dihapuskan.
"Satu-satunya yang bisa memproduksi mesin tekstil hanya Texmaco, tetapi saat ini sedang bermasalah," katanya.
Sehingga saat ini, industri tekstil dan produk tekstil masih mengandalkan mesin yang diimpor dari Jepang, Italia, dan Jerman. Selain itu juga masih ada negara-negara lain yang kini menjadi favorit untuk impor mesin tekstil yaitu Cina, Taiwan, dan India.
"Tentu mereka akan membeli kepada negara-negara yang mampu memproduksi mesin dengan kualitas bagus dan harga yang kompetitif," katanya.
Selain itu, Fahmi juga mengatakan tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah kondisi iklim usaha yang belum mendukung, persaingan yang semakin ketat, struktur industri yang masih lemah, ketergantungan impor bahan baku, industri kecil dan menengah yang belum optimal perkembangannya serta industri yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
"Lebih dari 62 persen industri kita terkonsentrasi di Pulau jawa, Selebihnya di NTB dan NTT. Di Sumatera hanya sekitar 12 persen, Kalimantan dan Sulawesi juga masih kecil. Yang lebih kecil lagi yaitu Papua, padahal sumber daya alamnya sangat melimpah," katanya.
Untuk mewujudkan industri yang maju di masa depan, telah ditetapkan tiga industri yang menjadi tumpuan yaitu industri agro, telematika, dan alat angkut.
Menteri mengatakan industri-industri tersebut akan menjadi prioritas untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara industri yang maju.
Selain industri agro, telematika, dan alat angkut, industri lain yang juga menjadi fokus dan prioritas yaitu basis industri manufaktur seperti tekstil dan prosuksi tekstil, keramik, alas kaki, keramik, baja, dan semen.
Industri Kecil dan Menegah tertentu seperti kerajinan dan barang seni, batu mulia dan perhiasan, serta makanan ringan, juga menjadi prioritas industri di dalam negeri. (*/rit)