Demikian pandangan salah seorang anggota Fraksi Partai Golkar di DPR RI, Hajriyanto Y Thohari, di Jakarta, Jumat, menanggapi hasil survei LSI yang hanya menempatkan Partai Golkar (PG) di posisi kedua sesudah PDI Perjuangan, menurut keadaan hingga awal April 2007 ini.
"Hasil riset ini terus terang saja menghentak kesadaran pemimpin-pemimpin Partai Golkar. Resonansinya ternyata terasa sampai di daerah-daerah. Dalam kesempatan dialog dengan para kader partai di daerah di masa reses ini, saya merasakan kencangnya resonansi tersebut," katanya.
Hajriyanto Thohari tidak menyalahkan kondisi objektif PG sebagai salah satu partai pendukung pemerintah, tetapi posisi inilah yang dianggapnya merupakan salah satu penyebab penurunan simpati publik terhadap partai berlambang pohon beringin tersebut.
"Dalam posisi ini kan PG tidak bisa kritis lagi terhadap pemerintah. Tetapi, sebuah partai pendukung pemerintah pun tentu tidaklah jelek-jelek amat. Namun harus disadari, rakyat menginginkan partai apa pun itu harus tetap kritis dan keras kepada pemerintah. Inilah soalnya," katanya.
Dalam kaitan ini, lanjut Hajriyanto Thohari, pimpinan PG perlu menginstruksikan kepada seluruh kadernya, terutama di DPR RI untuk lebih kritis dan keras kepada pemerintah, meskipun sebagai partai, PG mendukung pemerintah.
"Itulah memang maunya rakyat. PG harus menyatakan, bahwa gengsi, prestasi dan reputasi partai untuk sebagian besar berada di pundak anggota-anggota FPG," katanya.
Kelebihan PDI Perjuangan
Hajriyanto Thohari menilai, kekalahan telak PG dari PDI Perjuangan, menurut hasil survei LSI, sungguh sangat memukul perasaannya.
"Betapa tidak, PG yang menang dalam Pemilu 2004, menurut hasil survei LSI itu, dikalahkan oleh PDI Perjuangan yang dikalahkannya pada Pemilu 2004 itu. Pertanyaannya, adalah, kenapa PDI Perjuangan menang? Apa yang sudah dilakukan PDI Perjuangan sekarang ini? Apa kelebihan dan hebatnya PDI Perjuangan? Faktor apa yang menjadikan PDI Perjuangan mendapat opini yang baik di mata publik, sehingga menuai simpati politik seperti itu?," tanyanya dengan bertubi-tubi.
Dia lalu mengatakan banyak jawaban atas pertanyaan ini.
"Satu di antaranya, adalah, konsistensi. PDI Perjuangan telah tampil secara konsisten sebagai partai oposisi melalui penampilannya di DPR RI dan berada di luar pemerintahan," katanya.
Hajriyanto Thohari juga menilai PDI Perjuangan pun konsisten tidak ingin dan tak mau masuk kabinet.
"Tidak seperti partai-partai lain yang kerjanya bolak-balik menuntut perombakan kabinet dan ikut masuk dalam perahu kekuasaan. Akhirnya, jadinya serba tanggung. Kritis tidak, ikut berkuasa juga tidak," katanya.
Dari analisisnya, PDI Perjuangan benar-benar menggunakan DPR RI sebagai panggung kritisisme sepenuhnya atasnama rakyat.
"Dan rakyat ternyata menghendaki DPR RI, dari partai apa pun, agar tampil kritis terhadap pemerintah. Kritis itulah rupanya aspirasi rakyat sekarang ini," tambahnya.
Berdasarkan pengamatannya di lapangan, rakyat Indonesia kini makin pintar.
"Rakyat tahu, bahwa mereka memiliki presiden dan wakil presiden untuk memerintah, dan memilih anggota DPR RI untuk kritis pada pemerintah. Rakyat tahu, bahwa fungsi DPR RI yang terpenting adalah pengawasan. Dus, DPR RI, tak perduli dari partai apa pun, harus kritis pada pemerintah. Suka atau tidak suka, inilah keinginan rakyat," ujarnya.
Dalam kaitan itu, menurut Hajriyanto Thohari, PDI Perjuangan berhasil menangkap harapan rakyat tersebut.
"Dan hasilnya, PDI Perjuangan tampil sebagai kekuatan kritis di DPR RI dan berhasil mengambil simpati rakyat. Sementara Fraksi Partai Golkar (FPG) tidak bisa kritis, karena Partai Golkar mendukung pemerintah," ungkap Hajriyanto Y Thohari. (*/lpk)