Pendaratan Darurat Ga-602 Berkategori Insiden Serius
Kapanlagi.com - Pemerintah memastikan, pendaratan darurat pesawat Garuda Indonesia (Garuda) dengan nomor penerbangan GA-602 dapat dikategorikan insiden serius. "Kejadian itu termasuk insiden serius karena itu KNKT dan tim dari DSKU (Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara/DSKU) sudah ada di sana (Makassar, red)," kata Dirjen Perhubungan Udara, Dephub, Budhi M. Suyitno menjawab pers di Jakarta, Jumat. Padahal, sebagaimana diakui oleh Kapala Komunikasi Perusahaan PT Garuda Indonesia (Garuda), Pujobroto, sebelumnya bahwa kejadian itu insiden biasa, meski pendaratan tersebut dilakukan ketika ban roda belakang (main wheel) sebelah kiri, sudah pecah. Menurut Budhi, kejadian tersebut masuk kategori insiden serius karena terbukti kerusakannya, tidak hanya pada ban yang pecah, tetapi juga struktur pesawat. "Akibat kejadian itu airworthiness (kelayakan udara) pesawat itu terganggu dan ini akan mempengaruhi terhadap peringkat Garuda dalam hal safety," kata Budhi singkat. Senada dengan Budhi, Direktur Sertifikasi Kelaikan Udara, Dephub, Yurlis Hasibuan juga membenarkan bahwa dengan status itu, tim dari KNKT sudah melakukan pemeriksaan untuk melakukan penyebab-nya. "Meski tidak menimbulkan korban, ternyata pesawat itu, tidak hanya bannya yang meletus, tetapi landing gear-nya tidak bisa keluar ketika hendak mendarat, karena itulah pilot memutuskan untuk holding (berputar-putar) di udara sekitar 25-30 menit," kata Yurlis. Pesawat B-737 400 dengan nomor registerasi PK-GWK itu berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 08.05 dan diterbangkan oleh Capt Pilot Adi Nasai dan membawa 134 penumpang. "Capt pilot merasakan seperti ada getaran, tetapi tidak diketahui penyebabnya karena semua indikator di kokpit pesawat dalam kondisi normal," kata Pujobroto sebelumnya. Yurlis memastikan, pihaknya hingga kini belum memberikan ijin kepada pesawat itu untuk terbang karena harus menjalani pemeriksaan terlebih dulu. "Pesawat B-737 400 sejauh ini belum ada indikator di kokpit jika ban pesawat pecah," kata Yurlis. (*/rsd) |