< >

Prof. Eko: Kalau Lepas dari SPMB, Undip Jadi PT Lokal

Sabtu, 14 April 2007 08:52
Kapanlagi.com - Ketua Panitia Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Regional II, Prof.Ir. Eko Budihardjo, M.Sc. mengingatkan, jika Universitas Diponegoro (Undip) lepas dari SPMB, perguruan tinggi terbesar di Jateng ini akan menjadi perguruan tinggi (PT) lokal.

"Kalau lepas dari SPMB, maka yang mengikuti ujian mandiri Undip hanya lulusan SLTA dari daerah sekitar Jateng saja, sedangkan dari luar Jawa hampir tidak ada," katanya di Semarang, Sabtu.

Undip pada penerimaan mahasiswa baru 2007 membuka jalur ujian mandiri dengan alokasi 20 persen atau 1.000 mahasiswa baru dari 5.000 orang yang diterima pada program sarjana.

Selain ujian mandiri, Undip juga menerima mahasiswa baru dari jalur Program Seleksi Siswa Berprestasi (PSSB) sekitar 1.500 orang dan dari jalur SPMB sebanyak 2.500 orang.

Eko mengkhawatirkan alokasi mahasiswa yang diterima melalui ujian mandiri pada tahun-tahun mendatang kian diperbanyak sehingga mengurangi jumlah mahasiswa yang diterima dari jalur SPMB, yang uang kuliahnya jauh lebih terjangkau.

Bagi mahasiswa yang diterima dari jalur ujian mandiri, selain harus lulus seleksi akademik, mereka juga diwajibkan memberi sumbangan pengembangan manajemen pendidikan (SPMP) minimal Rp5 juta, bahkan Program Studi Pendidikan Dokter dan Fakultas Teknik, sumbangan minimal Rp15 juta.

Eko yang juga mantan Rektor Undip tersebut mengingatkan, seharusnya Undip tidak latah atau meniru PTN lain yang sudah berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN), seperti UGM, UI, ITB, dan IPB dengan mengutip sumbangan sangat banyak kepada mahasiswa baru.

"Kalau UI dan ITB memungut sumbangan besar, itu wajar karena mereka dekat dengan Jakarta, yang menjadi tempat tinggal banyak orang kaya. Tapi Undip itu ada di Jateng dan rata-rata masyarakatnya dari kelompok menengah ke bawah sehingga biaya pendidikan yang ditetapkan juga harus bisa dijangkau kebanyakan orang," katanya.

Menurut dia, dengan dibukanya ujian mandiri, maka peserta seleksi ini hanya siswa dari daerah sekitar, karena tidak mungkin Undip menggelar ujian mandiri di Papua, Sulawesi, dan Maluku.

"Kalau hanya ingin mengejar pemasukan uang, seleksi model ujian mandiri memang akan mendatangkan banyak uang. Akan tetapi, fungsi SPMB sebagai perekat kebangsaan akan terkikis, sebab tidak semua siswa dari pelosok Indonesia bisa mengikuti tes tanpa harus datang di daerah tempat perguruan tinggi berada," katanya.

Menurut dia, jika semua perguruan tinggi terkemuka akhirnya lebih banyak menerima mahasiswa baru yang dijaring melalui seleksi sendiri, bukan melalui SPMB dan PSSB, maka PT terkemuka itu akan kehilangan fungsinya sebagai perekat kebangsaan.

Eko juga membantah bahwa mahasiswa baru yang dijaring dari SPMB merupakan "grade" (lapisan) ketiga setelah kelompok pertama dan kedua disedot perguruan tinggi luar negeri dan PT terkemuka lain melalui seleksi yang diadakan mereka sendiri.

"Memang seleksi SPMB merupakan yang terakhir setelah PSSB dan ujian mandiri, namun hal itu bukan berarti mahasiswa yang lulus SPMB merupakan lapisa ketiga. Sebagian besar mahasiswa dari jalur SPMB di Undip memiliki prestasi akademik bagus," katanya. (*/cax)


BERITA TERKAIT