Polda Sulteng Masih Selidiki Kasus Bom Poso

Kapanlagi.com - Hingga Minggu (15/4), pihak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng) masih melakukan penyelidikan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dua ledakan bom di Poso yang terjadi Sabtu (14/4) malam.

Dari hasil olah TKP yang dilakukan, polisi berhasil menemukan casing dari bahan pipa paralon dan paku yang diduga sebagai bagian dari bahan peledak yang digunakan pelaku.

Kapolda Sulteng Badrodin Haiti mengemukakan, berdasar penyisiran, olah TKP dan barang bukti yang ditemukan, dua bom yang meledak itu berasal dari sumber yang sama.

"Orang menyebutnya bom lontong, casing-nya terbuat dari paralon dibungkus dengan lakban dan berisi potongan logam, katanya.

Ia mengatakan, pasca ledakan yang tidak menimbulkan korban itu, situasi di kedua lokasi ledakan berangsur pulih.

Sabtu (14/4) malam, dua ledakan bom kembali mengguncang wilayah Poso dan sekitarnya. Bom pertama meledak di Jalan Trans-Sulawesi, Kelurahan Mapane, Kecamatan Poso Pesisir, Poso. Bom kedua meledak di depan rumah warga di Kelurahan Kasinguncu, dua kilometer dari lokasi ledakan pertama.

Badrodin mengaku, meski belum diketahui pasti motif dari peledakan tersebut namun seperti kerap terjadi di Poso dan sekitarnya, ledakan dipicu adanya ketidakpuasan kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya.

Setahun silam, bom juga tak henti-hentinya mengguncang Poso. Sebutlah, ledakan bom pada 6 September dan 9 September silam, dua warga Poso tewas dengan kondisi mengenaskan akibat terkena ledakan bom.

Ini menjadi bukti bahwa kondisi keamanan di Poso masih labil, bukan seperti propaganda pemerintah setempat yang menyebutkan Poso cukup aman dan kondusif.

Tiga pekan kemudian, rapuhnya kondisi keamanan dan harmoni di Poso semakin tampak. Pada 29 September, sekitar 200 orang melempari helikopter yang digunakan Kepala Polda Sulteng Komisaris Badrodin Haiti saat mendarat di depan Markas Kepolisian Sektor Pamona Timur, Poso.

Massa juga merusak Markas Polsek Pamona Timur serta membakar dua mobil polisi. Malamnya, bekas Pos Brigadir Mobil di Kelurahan Sayo dilempari dua granat oleh dua orang pria bersepeda motor.

Keesokan harinya, empat bom meledak di Poso Kota dan diikuti dengan beredarnya informasi yang provokatif, yaitu warga Kelurahan Sayo akan diserang warga kelurahan lain. Dalam tempo sangat singkat, sekitar 3.000 penduduk Sayo telah berkumpul. Mereka membawa pedang, tombak, dan panah, seperti siap berperang. Pertikaian antarwarga nyaris pecah.

Semua peristiwa tersebut, oleh sejumlah pihak sempat dikaitkan dengan ketidakpuasan sekelompok warga terhadap pelaksanaan eksekusi mati Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu pada 22 September lalu. (*/bun)

©2003-2007 KapanLagi.com