"Air Asia semakin mengecewakan. Kalau manajemennya tidak segera memperbaiki kinerjanya, maka pasti akan ditinggal konsumennya," kata Inu Harahap yang sering terbang dengan Air Asia, di Medan, Senin.
Layanan Air Asia yang mengecewakan itu, katanya, antara lain seringnya jadual penerbangan itu terlambat sehingga konsumen terpaksa menunggu berjam-jam di bandara.
Paling mengesalkan lagi, katanya, kalau penerbangan dipercepat karena merusak semua rencana yang sebelumnya dijadualkan.
Dia memberi contoh, penumpang dari Medan-Jakarta yang membeli tiket untuk keberangkatan pukul 23.15 WIB menjadi dipercepat untuk digabung dengan penumpang yang berangkat pukul 21.30 WIB.
Meski petugas Air Asia menginformasikan jadual keberangkatan yang dipercepat atau ditunda itu kepada penumpang beberapa jam sebelumnya, tapi masalah itu tetap saja membuat penumpang kesal.
Kalau tidak menunggu berjam-jam di bandara, katanya, penumpang harus pontang-panting untuk segera pergi ke bandara.
Padahal ketika melakukan pemesaan tiket penerbangannya, konsumen pasti telah menyesuaikan dengan situasi dan kondisinya.
Sementara Air Asia tidak menghargainya dengan merasa cukup menyatakan tanggungjawabnya lewat kata-kata maaf dan pemberian nasi masing-masing satu kotak untuk satu penumpang.
"Manajemen Air Asia harus segera berbenah. Harga tiket murah yang ditawarkan selama ini bisa menjadi tidak menarik lagi bagi konsumen kalau ketepatan jadual terbang tidak lagi menjadi salah satu komitmen penerbangan itu," katanya.
Pendapat senada juga disampaikan Dini, pegawai salah satu perusahaan BUMD di Medan yang pernah mengalami hal sama ketika akan terbang bersama Air Asia ke Jakarta.
"Kalau tidak terpaksa, benar-benar kapok naik Air Asia meski harus diakui di dalam pesawatnya terasa lebih nyaman dibandingkan naik maskapai lain di luar Garuda," katanya.
IAA, yang merupakan maskapai Indonesia dengan filosofi hemat biaya dan konsep tanpa embel-embel, (tanpa tiket, tempat duduk dan tanpa makanan komplimen, red) sudah beroperasi hampir tiga tahun sejak mulai dioperasikan 8 Desember 2004.
IAA disebut-sebut mengoperasikan enam armada Boeing 737-300 yang melayani enam rute domestik, yaitu dari Jakarta ke Medan, Padang, Denpasar (Bali), Balikpapan, Surabaya, dan Batam, serta tiga rute internasional dari Jakarta ke Kuala Lumpur (Malaysia), Medan ke Penang (Malaysia) dan Surabaya ke Kuala Lumpur (Malaysia).
Menurut data, hingga akhir November 2006, IAA telah menerbangkan lebih dari 2,3 juta tamu.
Staf Air Asia di Bandara Polonia Medan menolak mengomentari keluhan konsumen tersebut. "Kami tidak memiliki wewenang memberikan keterangan apapun," kata staf di Kantor Air Asia Bandara Polonia itu.
Marketing Manager IAA Pusat, Herjanto Widjaja, yang dihubungi dari Medan mengatakan sejumlah pesawat Air Asia sedang diservis sehingga jumlah armada yang beroperasi berkurang.
Pengurangan armada itu menyebabkan terjadi perubahan jadual untuk di beberapa rute. "Manajemen sudah menginfromasikan ke calon penumpang," katanya. (*/cax)