< >

Terbongkar Lagi, Perdagangan Pelajar Indonesia di Malaysia

Rabu, 18 April 2007 19:20
Kapanlagi.com - Kedutaan Besar RI di Malaysia membongkar lagi modus perdagangan pelajar SMA di Bogor dan Sukabumi yang dipekerjakan secara ilegal di Malaysia.

Juru bicara KBRI Eka A Suripto dan Kepala Satgas KBRI Tatang Razak mengemukakan, di Kuala Lumpur, Rabu, ada dua pelajar SMA wanita asal Bogor, Fn, dan Sukabumi, Kh, melaporkan kejanggalan paspornya. Kedua pelajar itu telah mengikuti pelatihan kerja di sebuah restoran di Klang, Selangor, selama enam bulan.

"Seharusnya kami pulang 31 Maret 2007 tetapi ditunda-tunda terus sehingga kami tidak bisa pulang dan ikut ujian negara," kata Fn, seorang pelajar SMA Katolik di Citereup, Bogor.

Kedua pelajar itu masuk melalui "visa on arrival" atau visa sosial hanya untuk satu bulan. Selama mereka bekerja di restoran, paspor dipegang oleh agen yang menjadi broker dengan pemilik restoran. Ketika mereka harus pulang ternyata dalam paspor mereka ada stempel imigrasi Johor Baru dan Singapura yang menunjukkan mereka keluar masuk Malaysia. Padahal selama enam bulan mereka hanya di Klang, Selangor.

Keduanya kemudian melaporkan ke KBRI dan menanyakan hal itu. Petugas KBRI kemudian mengatakan ada dugaan kuat stempel imigrasi Johor Baru dan Singapura itu palsu dan jika mereka pulang begitu saja dapat ditangkap imigrasi Malaysia karena diduga melakukan penipuan stempel imigrasi, kata Tatang.

"Kedua pelajar ini sebenarnya merupakan korban perdagangan manusia. Dibilang training (magang) tetapi sebenarnya mereka bekerja tetapi izin kerja dan segala-galanya tidak diurus," kata Kepala Satgas KBRI itu.

Diakui oleh Fn, bahwa mereka bekerja sebagai "waiters" di sebuah restoran mulai dari jam 8 pagi hingga jam 12 atau jam 1 malam, dikurangi waktu istirahat dua jam.

"Kami dibayar 500 ringgit (sekitar Rp1,3 juta) per bulan tetapi dipotong 30 ringgit untuk uang listrik dan air per orang. Tetapi pihak restoran sebenarnya membayar ke agen adalah 900 ringgit per bulan," kata Kh.

Menurut cerita kedua pelajar tersebut, sekolah mereka mencarikan training di luar negeri dengan cara legal. Tetapi agen yang menjanjikan tidak kunjung merealisasikan. Akhirnya dapatlah tawaran dari agen Indonesia bernama Wd berlogat Jawa. Komunikasi dilakukan melalui email.

Akhirnya, belasan pelajar SMA wanita dari Bogor dan Sukabumi berangkat ke Malaysia dan bekerja di beberapa restoran untuk waktu enam bulan. Semua paspornya dipegang oleh Wd. "Ketika berangkat kami bersama-sama sedangkan ketika pula sendiri-sendiri," kata Fn.

Tapi ketika Fn dan Kh ternyata diundur-undur hingga keduanya tidak bisa ikut ujian negara. Suatu ketika keduanya sedang jalan-jalan di Kuala Lumpur ditanya polisi Malaysia mengenai identitas ternyata mereka tidak pegang paspor. Kebetulan saat itu, kedua pelajar melihat Wd, agen mereka.

Polisi kemudian menahan Wd dan menanyakan paspor para pelajar. Wd dan polisi kemudian pergi dan berjanji akan memberikan paspor mereka. Besoknya, kedua pelajar itu mendapatkan paspor dari Nr, kaki tangan Wd, berikut uang tiket pesawat untuk kembali ke Indonesia.

"Kami curiga dan heran kok di paspor banyak cap stempel imigrasi dan kami menanyakan ke KBRI," kata Fn, yang tampak mukanya kusut karena stres dan sudah ingin segera kembali ke keluarga.

"Kami akan mencoba menangkap pelaku atau agent mereka karena sudah terlibat pada pemalsuan stempel imigrasi negara lain," kata Tatang. Bila Wd dan Nr tertangkap, kedua pelajar juga harus berurusan dengan pengadilan Malaysia sebagai saksi," tambah Tatang.

Sementara itu, juru bicara KBRI Malaysia, Eka Suripto, meminta orang tua murid dan pelajar SMA untuk hati-hati dan tidak sembarangan memberikan training ke luar negeri karena itu semua berkedok untuk perdagangan manusia. (*/rsd)