< >

AC Nielsen: Ritel Modern Ancam Toko Pasar Tradisional

Kamis, 19 April 2007 08:10
Kapanlagi.com - Pertumbuhan ritel modern dapat mengancam keberadaan toko tradisional yang menjual produk serupa dalam pasar.

"Toko tradisional (secara umum) mengalami persaingan paling berat, mudah mati tapi juga mudah berdiri karena kadang tidak perlu izin untuk mendirikannya," kata Direktur Layanan Ritel dan Pengembangan Bisnis, AC Nielsen Indonesia, Yongky Susilo, di Jakarta, Rabu.

Meski demikian, menurut Yongky, toko tradisional yang berada di luar pasar masih akan berkembang karena lokasinya dekat dengan konsumen.

Berdasarkan hasil studi AC Nielsen, selama 2005 hingga 2006, jumlah toko tradisional hanya meningkat 2 % dari 1.745.589 menjadi 1.787.897 sedangkan ritel modern tumbuh 16 % dari 6.650 menjadi 7.713 outlet.

Secara nilai penjualan, toko tradisional tumbuh 9,6 % sementara toko modern tumbuh 23,8 %.

Penjualan ritel barang kebutuhan rumah tangga di Indonesia selama 2006 tumbuh 14,3 % dibanding tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan penjualan produk makanan sebesar 18,7 % dan non makanan 8,3 %.

Mayoritas produk makanan segar dibeli di pasar basah, produk makanan dan minuman ringan dibeli di toko tradisional sedangkan produk perawatan dibeli di ritel modern.

Menurut Yongky, toko tradisional kesulitan mendapat barang secara konsisten dengan harga yang bersaing karena jumlah pembelian yang kecil dibandingkan dengan para pesaing.

Selain itu, toko yang lebih besar bisa mendapat kemudahan dari pemasok atau distributor dalam hal jumlah barang dan sistim pembayaran sedangkan toko yang kecil harus membayar tunai dan hanya mendapatkan pilihan barang terbatas.

Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi pemilik toko tradisional, Yongky menyarankan agar mereka membentuk kelompok kemudian membangun distribution center untuk menjamin pasokan barang yang konsisten setiap hari dan melakukan pembelian bersama sehingga bisa mendapat potongan harga beli.

"Kelompok tersebut harus mempunyai sistim retail yang sama agar jaringan bisa berjalan," ujar Yongky.

Selain itu, toko tradisional juga dianjurkan agar meningkatkan penjualan melalui perubahan model bisnis menjadi setengah swalayan atau swalayan sepenuhnya untuk menangkap peluang impulse purchase (pembelian tak terencana) yang sangat besar.

Selanjutnya, kelompok toko modern dapat melakukan program promosi bersama dan membangun jaringan merek retail bersama sehingga dapat bersaing dengan baik. (*/rsd)