Direktur TSI Cisarua, Jansen Manansang, yang juga sebagai Koordinator Harimau Sumatera dan sekaligus Presiden "South East Asian Zoos Association" (SEAZA) didampingi jurubicara TSI, Nur Syamsiah kepada ANTARA, Kamis menjelaskan bahwa belasan institusi kebun binatang yang memberikan donasinya itu sangat membantu bagi kelangsungan penangkaran satwa asal Sumatera itu.
Ia menjelaskan, di antara lembaga yang selama ini memberi bantuan adalah Alexandria Zoo, Cameron Park Zoo, Memphis Zoo, Minnesota Zoo, Phoenix Zoo dan Zoo World. "Mereka tergerak untuk menyelamatkan satwa (Harimau Sumatera) ini dari ancaman kepunahan," katanya.
Penangkaran tersebut, katanya, dibangun pada tahun 1992 dengan luas 18 x 21 meter. Jumlah kandang Harimau sumatra sebanyak 12 kandang dengan ukuran 3 x 4 meter, kandang kawin sebanyak enam kandang dengan ukuran 6 x 6 meter dan kandang beranak dua buah kandang dengan ukuran 2 x 3 meter.
Diakuinya bahwa masyarakat tampaknya belum banyak yang mengetahui bahwa penangkaran Harimau Sumatra terdapat di TSI Cisarua, namun secara perlahan keberadaan penangkaran itu, sebagai sebuah upaya konservasi ex-situ kini juga terus digaungkan.
Dalam sebuah lokakarya "Pencegahan Perdagangan dan Perburuan Harimau Sumatera", di Medan, akhir Pebruari 2007, Regional Programme Officer, Traffic Southeast Asia, Chris R Shepherd mengemukakan bahwa Harimau Sumatera, satu-satunya spesies harimau di Indonesia yang masih tersisa, terancam punah pada tahun 2015.
"Jika pemerintah Indonesia dan masyarakat tidak serius melestarikannya, maka dunia akan kehilangan salah satu spesies binatang buas itu," katanya.
Menurut dia, berdasarkan hasil survei terakhir kali yang dilakukan pihaknya pada 2006, tidak kurang dari 50 ekor Harimau Sumatera punah dan diperdagangkan oleh masyarakat baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional pada setiap tahunnya.
Satwa itu diperdagangkan dalam bentuk utuh ataupun terpisah-pisah per bagian seperti cakar, gigi taring, misai/kumis, kulit atau pun tulang.
Ia menambahkan, spesies langka itu dewasa ini diprakirakan kurang dari 400 ekor dan tersebar di Provinsi NAD, Sumbar, Jambi, Bengkulu dan Lampung, seperti di Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit 12, Bukit 30, Taman Nasional Wai Kambas, Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Bukit Barisan Selatan.
Jaringan perdagangan binatang buas ini cukup rapi dan sebagian besar harimau Sumatera ini dijual ke China dan Korea Selatan dengan jalur perdagangan dari Indonesia melewati Malaysia, Thailand dan Taiwan.
Di negara konsumen, selain digunakan sebagai busana dan aksesoris juga digunakan sebagai obat-obatan. Contohnya di China tulang harimau Sumatera ini digunakan sebagai ramuan obat rematik dan kepercayaan masyarakat jika seseorang yang mengenakan kuku serta taringnya diyakini akan memiliki kekuatan lebih.
Menurut Chris R Shepherd, Indonesia memiliki sistim hukum yang sangat baik di antara negara Asia Tenggara, namun kondisi ini tidak didukung dalam penerapan hukum tersebut akibat lemahnya koordinasi pejabat antar lembaga terkait.
Jurubicara TSI Cisarua, Nur Syamsiah menambahkan, TSI sebagai Lembaga Konservasi ex-situ, telah ditunjuk oleh pemerintah sebagai pusat penangkaran Harimau Sumatera lengkap dengan bank sperma dari satwa itu, telah beberapa kali mencatat kelahiran empat bayi satwa langka tersebut.
Pada pertengahan tahun 2006 (8/6), empat bayi harimau Sumatera lahir dari betina bernama Rio (9 tahun), dari induk jantan bernama Simba (17 tahun) dalam keadaan normal.
Ia mengemukakan bahwa Indonesia memiliki tiga dari delapan jenis harimau yang ada di dunia. Namun, sayangnya saat ini harimau Jawa dan harimau Bali sudah dinyatakan punah.
"Yang masih tertinggal saat ini hanyalah Harimau Sumatera, sehingga satu-satunya yang masih ada ini harus benar-benar diselamatkan agar tidak punah," katanya.
TSI Cisarua, selain ditunjuk oleh pemerintah sebagai pusat penangkaran harimau Sumatra, juga ditunjuk sebagai studbook keeper atau pencatat silsilah populasi Harimau Sumatera.
Staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr drh Ligaya Ita Tumbelaka, Sp.MP, M.Sc adalah satu-satunya studbook keeper Harimau Sumatera di dunia.
Menurut dia, tujuan dari penangkaran Harimau Sumatera ini, selain menjaga kelestarian satwa tersebut agar tidak punah, juga untuk mencegah inbreeding agar menghasilkan mutu genetis yang bagus. (*/cax)