"Umaru Yar'Adua dengan ini dinyatakan sebagai pemenang," kata Maurice Iwu, kepala komisi pemilihan tersebut.
"Yar'Adua menang dengan 24.6 juta suara, jauh di depan dua pesaing lawan utamanya," kata Iwu.
Penguasa mantan tentara Muhammadu Buhari berada di tempat kedua dengan 6.6 juta suara, Wakil Presiden Atiku Abubakar meraih 2.6 juta dan 23 calon sisanya mendapatkan kurang dari 300.000 suara.
Yar'Adua, gubernur negara bagian Katsina, Nigeria utara, berusia 55 tahun, adalah calon partai berkuasa Rakyat Berkuasa (PDP) Presiden Olusegun Obasanjo dan karenanya diunggulkan menang.
Ia mengganti Obasanjo pada ahir Mei dalam pertama warga-ke-warga dalam sejarah pergolakan Nigeria sejak merdeka pada 1960.
Lawan dengan kasar mengecam pemilihan umum itu dan menyebutnya cedera, sedangkan pemantau asing menyatakan pemilihan tersebut jauh di bawah standar demokratis dunia.
Sebagai mantan pengasa tentara, Obasanjo menyerahkan kekuasaan kepada warga pada 1979.
Dua dasawarsa kemudian, sesudah 15 tahun kekuasaan tentara hampir terus menerus, ia terus menang dalam dua pemilihan presiden berturu-turut pada 1999 dan 2003, yang dikotori tuduhan kecurangan besar-besaran.
Pengawas antarbangsa dan setempat menyatakan pemilihan bagi penyerahan pertama kekuasaan dari pemimpin sipil ke pemimpin sipil di penghasil besar minyak dunia itu sangat dibahayakan pengisian gelap suara, kekerasan dan kekurangan jutaan kertas suara.
"Pranata itu menggagalkan rakyat Nigeria," kata Pierre-Richard Prosper dari Lembaga Republik Antarbangsa (IRI) mengenai pemilihan di negara carut-marut akibat beberapa dasawarsa pemerintahan tentara dan korupsi sejak merdeka dari Inggris itu.
IRI menyatakan pemilihan Sabtu di negara berpenduduk terpadat di Afrika dengan 140 juta jiwa itu jatuh di bawah ukuran, yang dapat diterima, dan pengawas setempat dari Kelompok Pengawas Sementara menyatakan pemilihan itu harus dibatalkan dan diadakan lagi.
Sejumlah pemimpin dunia menyampaikan harapan pada masa lalu bahwa Nigeria, kekuatan ekonomi Afrika barat, muncul sebagai kekuatan besar bagi perluasan demokrasi di seluruh benua itu.
Buhari menyatakan tidak akan menerima hasil itu dan minta parlemen memakzulkan Obasanjo.
Lawan menyatakan mungkin membawa pendukungnya ke jalan jika PDP menyatakan menang.
Sekitar 65 orang tewas dalam kekerasan berkaitan dengan pemilihan presiden dan pemilihan daerah sepekan sebelumnya di negara pengekspor minyak terbesar kedelapan dunia itu.
Pemerintah mengatakan perencana kudeta, yang tak disebutkan namanya, berusaha menodai pemilihan setelah gagal meledakkan markasbesar pemilihan hari Sabtu dengan sebuah mobil tangki minyak.
Polisi menangkap sejumlah pengunjukrasa di markasbesar pemilihan di ibukota Nigeria, Abuja, dan melarang semua unjukrasa.
"Ini pemilihan terburuk, yang pernah tejadi di Nigeria. Mereka tidak memiliki pilihan, kecuai membatalkan pemilihan sama sekali," kata Wakil Presiden Atiku Abubakar, musuh lama Obasanjo, yang akan mengahiri masa tugasnya.
Ketua Senat Ken Nnamani, pejabat ketiga tertinggi negara, menyatakan pelanggaran luas pemilihan akan menyebabkan warisan kebencian dan kemelut keabsahan bagi pemenangnya. (*/lpk)