< >

Kota Malang Berupaya Temukan Batik Malangan

Rabu, 25 April 2007 18:17
Kapanlagi.com - Hingga kini warga Malang mengaku masih kebingungan memberikan jawaban manakala para wisatawan bertanya apa yang pantas untuk dibawa pulang sebagai oleh–oleh. Meski pencanangan sebagai kota wasata telah berjalan lebih dari sembilan dasawarsa, hingga 2007 warga dan pemerintah kota Malang masih belum memiliki ketetapan hati tentang produk khas yang layak dijadikan icon.

Kripik tempe yang pernah menjadi icon Malang, kini populitasnya mulai menurun seiring makin mudahnya jajanan ini ditemukan di kota lain. Posisi kripik tempe kini mulai tergeserkan oleh aneka keripik sayur dan buah. Sayang produk yang terakhir itu juga belum menjadi icon. Pemkot Malang yang bekerja sama dengan Tim Penggerak Kota Malang hampir setiap tahun juga menggelar acara untuk menemukan icon kota, utamanya dalam bidang kudapan.

Untuk tahun ini, kata Ketua Tim Penggerak PKK Kota Malang Dra Heri Puji Utami upaya kota Malang dalam mencari icon wisata difokuskan pada sandang. “Tahun ini kami menggelar lomba desain batik khas Malang,’’ ungkap istri walikota Malang ini didampingi dua petinggi PKK lainnya, Ny Lusi Bambang Priyo Utomo dan Ny Musaffa, Selasa (24/4).

Melalui lomba itu diharapkan akan ditemukan desain batik khas Malang. Atau mungkin ditemukannya kembali desain batik Malangan, jika memang telah ada. “Dari lomba ini kami sangat berharap bisa menemukan motif batik khas Malang,’’ katanya.

Minimal ada tiga perameter yang akan dijadikan acuan dalam penilaian terhadap desain dari peserta lomba. Pertama, adanya keterkaitan budaya dan tradisi. Kedua keserasian dan kesatuan elemen desain, terakhir kreativitas.

Berdasarkan hasil rembugan dengan pakar budaya Malang, lanjut Heri desain batik harus mencerminkan Malang yang kental dengan tradisi sejarah. Terdapat minimal dua kerajaan besar yang pernah berdiri di Malang yakni Kenjuruan dan Singosari. ‘’Kami berharap unsur sejarah bisa terwakili dalam desain batik para peserta,’’ ujarnya.

Panitia, lanjutnya menerima karya peserta hingga 30 April 2007. Ada dua katagori yang dilombakan, perorangan dan kelompok, dengan kontribusi masing –masing Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu per karya yang dilombakan. Panitia menyediakan hadiah total senilai Rp7,5 juta. ‘’Karya pemenang akan dipamerkan dalam acara Malang Tempoe Doele yang digelar mulai 2 Mei mendatang,’’ paparnya.

Heri berjanji karya yang menjadi pemenang akan dipilih sebagai pijakan batik khas Malang. “Kami juga bekerja sama dengan Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Malang untuk penyempurnaan desain sebelum dituangkan dalam kain. Kami juga memiliki tim pembatik yang siap untuk memproduksinya,’’ jelas Heri sembari menambahkan desain batik ini nantinya akan dipatenkan. Soal hak cipta, PKK berjanji tetap melibatkan sang pemilik ide dasar, pemenang lomba yang karyanya terpilih. (*/rsd)