Humas PT TPS, Iwan Sabatini, di Surabaya, Kamis, menjelaskan, keamanan merupakan salah unsur penting dalam layanan kepelabuhanan, sehingga manajemen TPS bertekad dapat memberikan layanan kepada pengguna jasa sesuai standar layanan terbaik.
"Apalagi, TPS selama ini telah menjadi yang terdepan menuju industri Indonesia yang taat terhadap aturan `International Ships and Ports Security` (ISPS) dan `International Maritime Organization` (IMO)," ucapnya menjelang perayaan ulang tahun ke delapan.
Sebelumnya, TPS juga telah mengantongi dan mempertahankan sertifikasi yang sudah diraih seperti ISO 9001 (Proses Operasional), ISO 18001 (Perlindungan Lingkungan) dan OHSAS 14001 (Sumber Daya Manusia dan Keselamatan), yang secara keseluruhan telah diintegrasikan menjadi sistem Lingkungan, K3, Keamanan dan Mutu Layanan (LK4M).
Lebih lanjut, ia mengemukakan, pada 2006 telah terjadi konsolidasi besar dalam layanan pelayaranan dari dan ke Surabaya dengan jumlah kunjungan kapal yang menurun hampir 20 persen. Rata-rata tingkat pertukaran (turn over) kapal hampir sama dengan volume yang telah dicapai tahun 2005.
Menurut dia, ada berbagai macam alasan beberapa perusahaan pelayaran menarik mundur armadanya dari Surabaya, diantaranya adalah penurunan biaya layanan dokumen dan bongkar muat terminal yang telah diputuskan oleh Pemerintah Indonesia, batas kedalaman laut dalam kanal masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak, serta lesunya pertumbuhan volume petikemas secara umum dibandingkan dengan negara-negara lain.
Data di TPS pada 2006 sebanyak 1.476 "ship call" dan pada triwulan I/2007 mencapai 356 "ship call". TPS optimis volume petikemas akan mulai meningkat lagi.
"Dalam tiga bulan pertama tahun ini, kami telah melihat tanda-tanda kebangkitan kembali dalam tingkat volume petikemas," ujarnya.
Iwan juga berharap, pengerukan kanal yang dibutuhkan segera dapat dilaksanakan, sehingga kapal-kapal petikemas dengan ukuran lebih besar dapat masuk tanpa halangan.
"Kami sedang mempelajari kelayakannya apabila kolam labuh TPS diperdalam menjadi 12 meter dan diperlebar, sehingga empat unit `Container Crane` dapat sekaligus menangani kapal-kapal lebih besar," paparnya menambahkan.
TPS, kata Iwan, akan melaksanakan kebijakan penggantian peralatan untuk memastikan bahwa peralatan yang tersedia mampu melayani kebutuhan para pengguna jasa, baik perusahaan pelayaran, eksporter maupun para importer. Dengan demikian, volume petikemas juga meningkat.
Volume petikemas di TPS pada 2006 mancapai 1.053.466 "twenty equivalent units" (teus) dan diharapkan pada 2007 ada peningkatan antara 3-5 persen atau bisa melampaui 1,1 juta teus.
"Mudah-mudahan akses transportasi di Porong yang terhambat lumpur, segera pulih untuk kemudahan atau kelancaran transportasi angkutan barang menuju pelabuhan," ujarnya, berharap.
PT TPS kini telah berusia delapan tahun. TPS didirikan pada 1999, pada saat P&O Ports (Peninsular & Oriental Steam Navigation Company) Australia membeli 49 persen saham dari Unit Terminal Peti Kemas (UTPK) sebagai anak perusahaan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III.
Pada Maret 2006, P&O Ports diambil alih oleh Dubai Ports World. Dampak pengambilalihan tersebut, TPS memiliki akses hubungan keahlian dan komersial dengan perusahaan operator terminal terbesar keempat di dunia. (*/rit)