Dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat, Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Thamrin B. Bahri mengatakan pada Januari 2007 jumlah wisman 317.648 orang atau naik 6,94 % dibanding periode sama tahun lalu, Februari sebesar 322.289 wisman (naik 21,00 %), dan Maret sebanyak 349.555 wisman (naik 10,98 %).
"Melihat data-data ini kita yakin target kunjungan wisman tahun 2007 sebesar enam juta orang dapat tercapai," kata Thamrin B. Bahri.
Dikatakannya, jumlah kunjungan wisman khusus untuk ke Bali, salah satu tujuan wisata utama Indonesia, pada periode Januari-Maret 2007 sebanyak 363.686 orang, yang merupakan rekor tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini.
Pada kesempatan itu, Thamrin mengatakan pihaknya baru-baru ini telah membuka lima kantor pusat promosi pariwisata di luar negeri dalam bentuk "branded office" yakni kegiatan promosi yang dilakukan oleh agen-agen pemasaran profesional swasta di luar negeri.
Jadi , Depbudpar tidak perlu membuat kantor khusus yang disebut dengan NTO (National Tourism Offices) dengan menempatkan orangnya sendiri di luar negeri karena keterbatasan dana, cukup dengan menyewa agen-agen pemasaran swasta tersebut untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.
"Diharapkan tahun ini Indonesia akan memiliki 12 kantor pusat promosi di mancanegara, kesemuanya tidak lagi dikelola seacara full NTOs (National Tourism Offices) mengingat keterbatasan dana," kata dia.
Dia menjelaskan bahwa sebelumnya Depbudpar memiliki tujuh kantor pusat promosi pariwisata di luar negeri, yang tersebar di Jepang, China, Australia, Jerman dan India, seluruhnya dalam bentuk branded office.
"Khusus kantor pusat promosi di Jerman dan India belum menjadi full branded office, mengingat keterbatasan dana. Kita baru bisa menganggarkan dana Rp50 juta per tahun untuk masing-masing agency di sana. Ini sebagai upaya emergency. Diharapkan bila anggarannya sudah mencukupi akan ditingkatkan menjadi branded office," kata dia.
Dikatakannya, saat ini Depbudpar tengah menjajaki kemungkinan membuka kantor pusat promosi pariwisata di Malaysia dan Singapura, juga dalam bentuk branded office.
Dia menjelaskan bahwa untuk membuka satu kantor pusat promosi pariwisata Indonesia (P31) di luar nbegeri (full NTOs) dibutuhkan dana sebesar Rp27 miliar per tahun. Dana tersebut digunakan untuk menyewa kantor, bayar pegawai, serta material promosi.
Sementara dengan pola branded office, hanya membutuhkan dana sebesar Rp4-5 miliar per tahun, yang sebagian besar untuk mendukung bahan-bahan promosi serta pendistribusiannya yang dilakukan pihak agency. (*/rsd)