"Kita akan tindak jika pemukulan terhadap siswa itu benar-benar terjadi," katanya usai memimpin upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Balaikota Medan, Rabu.
Aksi pemukulan tersebut menimpa 45 siswa di sekolah itu setelah mereka menolak ikut berbaris pada upacara yang dilaksanakan pagi itu. Pelakunya disebut-sebut bernama Ramala Saragih, guru yang kebetulan kebagian jadwal piket pada hari itu.
Para siswa yang terdiri atas siswa kelas V dan VI itu tidak ikut berbaris karena pada malam sebelumnya hujan lebat sehingga lapangan becek. Mereka pun sudah mendapat izin untuk tidak ikut upacara dari guru kelas karena pada hari itu mereka akan ujian.
Hanya saja ketidakhadiran para siswa kelas V dan VI itu tidak dapat diterima Ramala Saragih dan dia pun langsung "menghukum" dengan cara memukul dengan rol yang terbuat dari kayu.
Pada hari Selasa (1/5) sejumah orangtua siswa melakukan protes ke sekolah itu, meski kepada para siswa sudah diingatkan agar tidak melaporkan kejadian itu kepada orangtua mereka.
Menanggapi kejadian itu Abdillah mengatakan pihaknya telah memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Hasan Basri untuk melakukan pengusutan.
"Kita akan usut. Seorang guru seharusnya memberi contoh yang baik-baik, melindungi dan mengayomi anak didik, bukannya justru memukuli mereka," katanya.
Hasan Basri sendiri pada kesempatan yang sama juga mengaku tidak akan mendiamkan kejadian itu. Menurut dia pihaknya sudah menginstruksikan Kacab Dinas Pendidikan Medan Helvetia untuk menuntaskan kasus itu.
"Kita akan selesaikan kasus ini hingga tuntas. Jika terbukti tentu garunya akan ditindak dan dikenai sanksi setimpal," ujarnya. (*/cax)