Peringatan Hardiknas di Kota Kediri Diwarnai Demo Anti Persik
Kapanlagi.com - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu diwarnai dengan aksi unjuk rasa anti tim sepakbola Persik Kediri. Puluhan pengunjuk rasa yang berasal dari beberapa perguruan tinggi dan elemen mahasiswa itu bergerak dari Alun-alun menuju gedung DPRD Kota Kediri. Mereka mempertanyakan minimnya anggaran pendidikan di Kota Kediri yang nilainya tak lebih dari 15 persen APBD tahun 2007. "Alokasi anggaran pendidikan sama sekali tidak seimbang dengan kebutuhan sarana pendidikan, bahkan nilainya jauh di bawah ketentuan Undang-undang Sisdiknas yang mengharuskan 20 persen dari keseluruhan APBD," kata koordinator aksi Hajarun Ni`am di depan pimpinan DPRD Kota Kediri. Hal ini bertolak belakang dengan kebijakan Pemkot Kediri yang lebih mengutamakan perhatiannya kepada tim sepakbola Persik yang dikelola menantu Walikota Kediri HA Maschut, Iwan Budianto. "Kami minta tanggapan anggota dewan, mengapa ini bisa terjadi. Bukankah pendidikan lebih penting dibandingkan dengan sepakbola yang sarat dengan nuansa politis dan korupsi," ujar Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri itu. Menganggapi hal itu, Wakil Ketua DPRD Kota Kediri HD Arifin Asror mengatakan, bahwa Persik tidak selamanya akan menerima dana dari APBD. "Tahun depan sudah harus mandiri karena memang selama ini dana APBD yang disalurkan kepada Persik cukup besar," ujar anggota Fraksi PKB itu. Menurut dia, pada musim kompetisi tahun ini Persik sudah mulai berupaya tidak mengandalkan kucuran dana dari APBD saja, dengan menjalin sponsorship dari pihak lain. Sayangnya jawaban pimpinan dewan itu tidak memuaskan para pengunjuk rasa, karena sejak dari dulu DPRD Kota Kediri selalu berjanji akan membatasi kucuran dana APBD untuk tim sepakbola yang saat ini telah berada di Bogor, Jawa Barat, guna persiapan menghadapi Persikabo di akhir putaran pertama kompetisi Divisi Utama Ligina, Kamis (3/5) besok. Anggota Komisi C DPRD Kota Kediri Ahmad Tsalis menyebutkan dana pendidikan di luar gaji guru pada tahun 2007 ini hanya sekitar tiga persen. "Tentu tidak sebanding jika dikaitkan dengan dana Persik yang setiap tahun mendapatkan Rp15 sampai 20 miliar," ujarnya. Selain menyoroti soal Persik, para mahasiswa di Kota Kediri juga menyoroti praktik KKN dalam penerimaan siswa baru sekolah negeri. Aksi tersebut sempat memacetkan jalan-jalan protokol di Kota Kediri karena para mahasiswa membagi-bagikan selebaran kepada para pengguna jalan. Sementara itu usai upacara Hardiknas di Balaikota Kediri, sekitar seribu siswa meniupkan seruling secara bersama-sama. Acara ini dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) (*/cax) |