< >

Harga Minyak di Asia Diperdagangkan Dalam Rentang Sempit

Kamis, 03 Mei 2007 16:56
Kapanlagi.com - Harga minyak bervariasi dalam rentang sempit di pasar Asia, Kamis, setelah adanya harapan peningkatan cadangan produk minyak dari kilang Amerika Serikat (AS) setelah sebelumnya terjadi penurunan kembali atas stok bensin AS, kata para pelaku pasar.

Cadangan bensin di konsumen energi terbesar itu kini menjadi fokus perhatian menjelang masuknya puncak musim berkendaraan bermotor akhir bulan ini ketika warga Amerika turun ke jalan untuk mengisi liburan mereka.

Pada pukul 10.45 waktu Singapura (02.45 GMT), kontrak minyak utama New York, light sweet, untuk pengiriman bulan Juni turun menjadi 63,64 dolar per barel dibandingkan 63,68 dolar dalam perdagangan Rabu malam di AS.

Minyak mentah Brent Laut Utara untuk pengiriman Juni naik 27 sen menjadi 66,52 dolar per barel.

Cadangan bensin AS turun 1,1 juta barel menjadi 193,1 juta dalam pekan yang berakhir pada 27 April, menurut data resmi yang dikeluarkan Rabu. Pasar telah mengantisipasi penurunan sebesar 1,3 juta barel.

"Dalam perdagangan di AS, (kontrak) minyak diperdagangkan turun. Harga akan bertahan dalam rentang sempit di kisaran 63 dolar," kata Victor Shum, analis pada konsultan energi Purvin and Gertz di Singapura.

"Hasil dari laporan cadangan (minyak AS) secara umum bervariasi dengan tekanan mengeras...ada indikasi bahwa tingkat penggunaan kilang di AS naik dan itu akan berarti bahwa pasokan bensin akan lebih lancar untuk sementara waktu."

Kilang AS meningkatkan produksi bensinnya pekan lalu dibandingkan pekan sebelumnya. Meski begitu, penurunan dalam stok bensin sudah terjadi selama 12 kali dan cadangan kini turun 34,1 juta barel sejak Februari lalu.

Cadangan minyak mentah AS naik 1,1 juta barel menjadi 335,6 juta barel pekan lalu, di bawah proyeksi kenaikan 1,5 juta barel.

Meski dibayangi dengan kekhawatiran stok minyak dunia, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rabu, mengatakan bahwa pihaknya menilai belum perlu menaikkan produksi.

"Pasar dalam keadaan stabil," kata Sekjen OPEC, Abdullah el-Badri di Riyadh, Rabu.

"Saya pikir mungkin bulan Juni kami akan mengkaji kembali pasar untuk melihat apakah kami butuh lebih banyak lagi minyak atau tidak--tetapi Saya pikir kami belum memerlukannya." (*/rit)