< >

Pedagang Kecil Risaukan Pendapatan Yang Terus Menurun

Jum'at, 04 Mei 2007 13:58
Kapanlagi.com - Kenaikan harga minyak goreng mulai membuat sejumlah pedagang kecil menjadi risau karena pendapatannya yang terus menurun.

"Terasa sekali pendapatan menurun setelah harga minyak goreng naik dalam satu bulan terakhir," kata Cak Ardi (32),pedagang bakmie Surabaya yang berkeliling berjualan di salah satu kompleks perumahan di Bekasi, Kamis malam (3/5).

Dia mengaku pendapatannya menurun dalam sebulan terakhir bukan karena kurangnya pembeli, tetapi karena semakin meningkatnya harga bahan-bahan kebutuhan untuk berdagang.

Sehari-hari, Cak Ardi mengaku, jika dagangannya sedang ramai pembeli omzetnya dapat mencapai Rp200 ribu. Tetapi keuntungan yang bisa dikantongi paling hanya Rp40 hingga Rp60 ribu saja, padahal sebelumnya keuntungannya dapat mencapai Rp90 ribu per hari.

"Pendapatan bersihnya bisa setengah dari yang sebelum-sebelumnya. Yang jelas semakin terasa karena biaya kebutuhan sehari-hari juga meningkat, jadi semakin sedikit yang bisa ditabung," ujar pria asal Madura tersebut.

Dia mengatakan harga minyak goreng curah yang saat ini mencapai Rp8.000 per kilogram di pasaran bukan satu-satunya penyebab yang mengurangi pendapatannya. Masih mahalnya harga beras dan ikut naiknya harga ayam, telur, dan sayuran juga menjadi penyebabnya.

"Yang jelas, kalau biasanya saya cuma perlu mengeluarkan uang Rp60 hingga Rp70 ribu per hari untuk mulai berdagang sekarang bisa lebih dari Rp100 ribu," katanya.

Hal yang sama dialami oleh Muksin (30) pedagang gorengan di daerah Senayan, Jakarta Pusat. Dia mengaku sudah dua bulan terakhir harus tinggal di sebuah masjid di kawasan TVRI. Ini dikarenakan pendapatannya semakin berkurang sementara harga kebutuhan termasuk harga kontrakan semakin meningkat.

"Sehari sebelumnya harga minyak goreng Rp7.000 per kilogram. Tiba-tiba hari berikutnya sudah Rp8.000 per kilogramnya, lalu naik lagi Rp9.000 per kilogram," ujar Muksin yang mengaku dalam satu hari menghabiskan empat kilogram minyak goreng tersebut.

Dia tidak hanya mengeluhkan harga minyak goreng tetapi juga harga sayur mayur seperti kubis dan wortel sebagai bahan untuk membuat bakwan goreng yang ikut naik.

"Belum lagi harga tepungnya, yang tadinya cuma Rp3.000 jadi Rp5.000 per kilogram. Jadi jangan heran jika saya menjual gorengan saya dengan harga Rp500," katanya.

Sebelum berjualan gorengan, Muksin mengaku sempat berjualan buah-buahan di Pasar Mester Jatinegara, Jakarta Timur, selama lima tahun sebelum akhirnya terpaksa pindah dan gulung tikar karena digusur saat ada pembuatan busway dan tersendatnya pasokan buah-buahan sebelum Lebaran tahun 2006 lalu.

Dia mengaku hanya bisa mengantongi pendapatan bersih Rp30 ribu per harinya. Padahal sebelumnya dia dapat mengantongi Rp60 ribu per hari.

"Keuntungan meningkat hanya kalau ada pentas di TVRI saja setiap malam Kamis," kata pria asal Cirebon tersebut.

Dia mengaku tidak takut rugi saat memulai berdagang, tetapi dia merasa Pemerintah seharusnya memiliki andil untuk membuat pedagang kecil seperti dirinya dapat dengan tenang berdagang.

Lain halnya dengan Salim, pedagang lontong sayur asal Pemalang. Dia mengaku hanya sedikit terpengaruh dengan kenaikan harga minyak goreng, beras, telur, dan sayur mayur.

Tetapi dia mangatakan hingga sekarang kenaikan harga BBM akhir tahun 2005 lalu masih berdampak pada penghasilannya.

Salim tidak menyebutkan berapa keuntungan perbandingan antara sebelum kenaikan BBM dan sekarang, tetapi yang jelas dia sudah tidak bisa ikut arisan sebesar Rp750 ribu per bulan lagi karena harus menutupi biaya kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Dia membenarkan bahwa terjadi penurunan pendapatan bersih gara-gara harga beras, telur,dan minyak goreng naik.

"Paling banyak keuntungan bersih sekarang cuma Rp35 ribu saja. Biasanya sih bisa samapi Rp50 ribu. Itu karena total belanjanya bertambah Rp15 ribu per hari," ujar dia. (*/rit)