< >

Harga Minyak Turun di Pasar Asia

Senin, 07 Mei 2007 19:29
Kapanlagi.com - Harga minyak turun di pasar Asia, Senin (07/05), hingga ke tingkat yang sama di bulan Maret sehubungan kekhawatiran atas ketatnya pasokan bensin menjelang musim berkendaraan bermotor pada musim panas, kata para pedagang bursa.

Kontrak minyak utama New York, light sweet, untuk pengiriman Juni, turun 18 sen menjadi US$61,75 per barel setelah sebelumnya turun hingga US$61,93 dalam penutupan perdagangan Jumat malam.

Harga minyak mentah Brent Laut Utara tidak diperdagangkan karena pasar London tutup bertepatan dengan liburan nasional.

Harga minyak kehilangan lebih dari US$4 per barel di New York sejak 27 April atau hampir tujuh% dari nilai sahamnya, sehingga mendekati nilai yang diperdagangkan pada 22 Maret lalu.

"Saya kira harga turun akibat faktor geopolitik dan proyeksi suplai...kami melihat kurangnya kekhawatiran atas isu bensin," kata analis Seymour Securities, Steve Rowles yang berkantor di Hong Kong.

Meskipun terakhir ada penurunan dalam stok bensin di AS, masih ada sinyal bahwa kilang-kilang minyak AS dapat meningkatkan lagi produksinya setelah adanya penambahan kapasitas kilang untuk memenuhi kebutuhan.

Stok bensin AS biasa menjadi fokus selama musim panas ketika warga Amerika Serikat ramai-ramai mengemudikan kendaraan bermotor untuk menjalani liburan mereka.

Cadangan bensin AS turun 1,1 juta barel menjadi 193,1 juta dalam pekan yang berakhir pada 29 April dan turun 34,1 juta barel atau 15% sejak awal Februari.

"Cadangan turun hampir 15% selama tiga bulan terakhir. Itu nampaknya hampir mencapai (titik terendah). Kami menghadapi puncak musim berkendaraan dan kilang-kilang AS terus menaikkan produksinya," kata Rowles.

Mengenai isu geopolitik, para investor mengawasi kerusuhan terbaru di Nigeria, eksportir minyak terbesar di Afrika.

Kelompok bersenjata menculik warga Inggris dari anjungan minyak di selatan Nigeria, kata sebuah laporan Sabtu, sehingga hingga akhir pekan lalu setidaknya sudah 20 warga asing diculik.

"Situasi di Nigeria tidak sama besarnya dengan yang terjadi di Timur Tengah...situasi di Iran juga lebih damai ketimbang sebulan lalu," kata Rowles. (*/rit)