FTA dengan UE Rugikan ASEAN
Kapanlagi.com - Direktur itoring Sustainability of GlobalisationCharles Santiago menilai penandatanganan kesepakatan perdagangan bebas (FTA) dengan Uni Eropa (UE) hanya akan merugikan negara ASEAN karena prinsip perlakuan yang sama (timbal balik/reciprocity). "Kalau mereka menurunkan Bea Masuk (BM) untuk produk pertanian misalnya 70 persen, maka negara ASEAN juga akan diminta menurunkan setingkat itu," katanya dalam pelatihan mengenai FTA ASEAN-UE di Jakarta, Selasa. Akibatnya petani ASEAN tidak bisa bertahan karena produk pertanian impor dari UE akan membanjiri pasar dalam negeri dengan harga lebih murah karena sistem subsidi pertanian UE. Direktur lembaga swadaya masyarakat yang bermarkas di Malaysia itu juga menilai FTA regional ini akan lebih liberal dibandingkan dengan perundingan perdagangan bebas multilateral (WTO) yang masih memegang prinsip perlakuan khusus untuk negara berkembang. Penandatanganan FTA dengan UE akan menyebabkan ASEAN mengubah seluruh kebijakan dan aturan ekonominya untuk disesuaikan dengan sistem dan kebijakan UE. "Pemerintah negara ASEAN harus menerapkan standar perlindungan tertinggi untuk hak kekayaan intelektual milik perusahaan multinasional UE," paparnya. ASEAN juga harus membuka diri untuk perusahaan UE dalam hal pengadaan barang pemerintah (Government procurement). Menurut Charles, salah satu kebijakan UE untuk mendorong partisipasi sektor swastanya di ASIA antara lain adalah insentif keuangan untuk bisnis melalui Bank Investasi Eropa (European Investment Bank). Charles menambahkan, kalaupun negara ASEAN meminta UE untuk menurunkan tingkat subsidinya maka atas azas reciprocity itu, negara ASEAN juga harus membatasi pemberian subsidinya. Peneliti Institute for Global Justice (IGJ), Beginda Pakpahan menilai kerjasama UE dan ASEAN merupakan hubungan yang timpang karena lebih didominasi oleh UE. Namun ASEAN dapat menjadi mitra yang kritis untuk mencapai kepentingannya dalam meningkatkan ekspor dan fleksibilitas UE atas produk-produk pertanian dan perikanan ASEAN. "Saya memprediksi bahwa UE akan mendominasi hubungan dagang antara UE dan ASEAN. Oleh karena itu, ASEAN perlu memiliki posisi bersama dan menjadi mitra yang kritis terhadap UE khususnya fleksibilitas peraturan perdagangan dan pelaksanaan perdagangan dalam perspektif pembangunan," katanya. Selain itu, lanjut Beginda, ASEAN dapat memberdayakan bantuan pembangunan dari UE untuk menyatukan ekonominya, meningkatkan kapabilitas setiap negara dalam proses penyatuan di intra ASEAN dan juga UE. (*/rsd) |