< >

AS, Filipina dan Brunei Tingkatkan Akses Pasar

Kamis, 10 Mei 2007 11:23
Kapanlagi.com - Amerika Serikat (AS) melaksanakan pertemuan terpisah dengan Filipina dan Brunei Darussalam pada pekan ini untuk meningkatkan akses pasar bagi jajaran produk, kata pejabat.

Pembicaraan itu dilaksanakan berdasarkan apa yang dikenal sebagai Perjanjian Kerangka Investasi dan Perdagangan (Trade and Investment Framework Agreements/TIFA) antara AS dan dua negara Asia Tenggara itu, menurut kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR).

Pembicaraan dengan Filipina itu, dilaksanakan di Washington, Rabu, mengenai langkah-langkah untuk meningkatkan akses pasar untuk jajaran produk yang luas yang memasukkan barng-barang teknologi tinggi, industri dan pertanian, kata sebuah pernyataan dari kantor tersebut.

Mereka juga meninjau kebijakan kepabeanan dan tarif dalam upaya untuk menenangkan perdagangan antara dua sekutu perjanjian itu, katanya.

Selain itu, mereka meninjau langkah-langkah oleh pemerintah Filipina selama tahun lalu untuk menegakkan dan memperkuat perlindungan hak atas kekayaan intelektual serta mendiskusikan langkah-langkah tambahan yang membuat Filipina dapat lebih meningkatkan rezim kekayaan intelektualnya, kata pernyataan USTR itu.

Pejabat-pejabat untuk pembicaraan itu dipimpin oleh Asisten USTR untuk Asia Tenggara dan Pasifik, Barbara Weisel dan Wakil Menteri Industri dan Perdagangan Filipina, Thomas Aquino.

Filipina merupakan mitra dagang terbesar ke-28 AS dengan total perdagangan barang dua arah sebesar US$17,3 miliar pada 2006.

Ekspor AS ke Filipina mencapai US$7,6 miliar pada tahun lalu, naik 10,5% dari tahun sebelumnya sementara impor AS dari Filipina naik 4,8% menjadi US$9,7 miliar pada periode yang sama, kata kantor USTR.

Investasi langsung asing AS di Filipina meningkat 10,7% pada 2005 dari tahun sebelumnya menjadi US$6,6 miliar, katanya.

Pejabat USTR juga bertemu dengan mitra mereka dari Brunei Darussalam di ibu kota kesultanan yang kaya minyak, Bandar Seri Begawan pada Senin berdasarkan perjanjian TIFA mereka, kata pernyataan tersebut.

Mereka "setuju untuk memeriksa cara bersama untuk memperdalam hubungan perdagangan antara kedua negara itu dan bagaimana AS dapat mendukung upaya Brunei untuk meragamkan perekonomiannya," katanya.

Ketergantungan yang sangat Brunei atas penerimaan dari ladang minyak dan gasnya dapat berakhir ketika, menurut prediksi pakar, cadangan negara itu habis pada sekitar 20 tahun lagi.

Perdagangan barang dua arah AS-Brunei mencapai sekitar US$600 juta pada 2006.

Filipina dan Brunei merupakan anggota Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), yang secara bersama merupakan pasar ekspor terbesar keempat AS. (*/rit)