”Selama ini industri sabut kelapa sudah berjalan, dan berlokaksi di Desa Tana Duen, Kecamatan Kewapante. Hanya saja pemasaran dalam skala besar belum kita lakukan. Kita sedang menjajaki kerja sama denga eksportir dari Surabaya,” kata Direktur PD Mawarani, Galdimus Edisius Dore i di Maumere, Rabu.
Dia mengatakan, pihaknya sudah mendapat penawaran dari salah satu perusahan di Surabaya. Namun untuk memulai kerja sama itu, perusahan eksportir tersebut akan melakukan survei ke Kabupaten Sikka untuk melihat kondisi industri sabut kelapa yang ada.
Dalam pembicaraan awal dengan salah seorang eksportir, kata dia, disepakati perusahan itu juga akan memberikan bantuan untuk kegiatan industri apabila kwalitas sabut kelapa yang diproduksi PD Mawarani dinilai layak untuk diekspor.
Menurut Dore, kwalitas sabut kelapa yang diproduksi PD Mawarani diolah melalui tiga tahap sehingga hasilnya juga sangat baik untuk kepentingan ekspor. Kegiatan produksi ini didukung dengan tiga unit mesin yakni mesin penghancur, pengayak, dan mesin pres.
Dia mengatakan, apabila usaha ini berkembang baik, akan sangat membantu para petani kelapa yang ada di Pulau Flores. Sebab, sejak beroperasi Januari lalu, ribuan ton sabut kelapa yang sudah dibeli dari masyarakat.
Dore menambahkan, kegiatan industri sabut kelapa bertujuan untuk memberdayakan ekonomi para petani kelapa. Belakangan ini harga komoditi kelapa terseret oleh harga komoditi lain seperti kakao, vanili, cengkeh, dan mete. Hal ini menyebabkan kelapa yang dulu sebagai sumber pengahasilan utama, mulai bergeser.
”Kita mencoba bagaimana barang yang dianggap sampah ini, kemudian menjadi bernilai ekonomi. Ini potensi ekonomi lokal yang disepelekan oleh para pengusaha di sini,” ungkapnya.
Dari hasil survei yang dilakukan oleh PD Mawarani, persedian sabut kelapa untuk kebutuhan ekspor masih sangat banyak untuk wilayah Flores. Bahkan bahan baku ini diperkirakan tidak akan habis karena populasi tumbuhan kelapa masih sangat banyak.
Dore mengatakan, saat ini pihaknya masih membeli sabut kelapa dari petani-petani yang ada di wilayah Kabupaten Sikka. Dengan adanya kerja sama untuk ekspor, maka tidak bisa hanya mengandalkan sabut kelapa dari masyarakat setempat.
”Sudah pasti kita akan datangkan juga sabut dari kabupaten lain karena permintaannya sangat tinggi,” ujarnya. Dia mengatakan, dalam sebulan, pihaknya dapat memproduksi sabut kelapa sebanyak 52 ton atau rata-rata sehari 2 ton/hari untuk kapasitas mesin yang dimiliki sekarang. Pengembangan produksi ini tetap dilakukan ke depan guna memenuhi permintaan pasar.
Menurutnya, usaha ini sangat representatif dengan julukan Kabupaten Sikka sebagai Kabupaten Nyiur Melambai. Kebanggan satu-satunya ini kini makin pudar karena tidak ada upaya untuk pemberdayaan terhadap para petani kelapa.
Selain memproduksi sabut kelapa, PD Mawarani juga memproduksi briket arang tempurung sebagai pengganti bahan bakar. Briket ini dapat menggantikan bahan bakar minyak tanah pada alat masak kompor.
Untuk mendukung usaha ini, kata Dore, pihaknya mendatangkan kompor dari Surabaya yang khusus menggunakan briket. Hasilnya, kini sudah dipasarkan ke sejumlah kalangan. (*/rsd)
Jika anda bersedia kami ingin bekerja sama untuk memenuhi kouta pengiriman anda. Thank!!!
kontak persent,08126910346