"Dari mulai mesin pengolah jarak pagar stationare berkapasitas satu ton per hari, mesin pengolah jarak pagar mobile berkapasitas satu ton per hari dan mesin pengolah jarak pagar stationare berkapasitas enam ton per hari," kata Kepala Divisi Efisiensi Energi BPPT Dr MAM Oktaufik di Jakarta, Rabu.
Saat ini pihaknya sedang merancang bangun mesin pengolah jarak terpadu dengan kapasitas hingga 10 ton per hari.
Diharapkan prototipe mesin pengolah jarak tersebut bisa dikembangkan di daerah-daerah perkebunan jarak pagar yang saat ini mulai dibudidayakan di Indonesia timur dengan membentuk usaha pengolahan minyak jarak.
Sementara itu, peneliti lain dari Balai Rekayasa Disain dan Sistem Teknologi BPPT, Soni S Wirawan sebelumnya menjelaskan, biodiesel sendiri didefinisikan sebagai ester alkil (metil, etil, isopropil, dan sejenisnya) dari asam lemak atau trigliserida (CPO, Minyak Jarak dan lain-lain).
Bentuk biodiesel yang cair dan kemampuan dicampurkan dengan solar pada segala perbandingan, memungkinkan untuk memanfaatkan biodiesel tanpa perlu menyediakan converter dan infrastruktur yang baru.
Jika dibandingkan dengan minyak solar, biodiesel memiliki beberapa keunggulan lain yaitu memiliki cetane number yang lebih tinggi (untuk biodiesel dari minyak sawit dapat mencapai 62, sedangkan minyak solar Pertamina hanya 48).
Selain itu daya lumasnya lebih baik, menghasilkan kadar emisi gas buang lebih baik, asap dan partikel lebih rendah, lebih tidak mudah terbakar dan dapat terurai secara alami (biodegradable).
Melalui Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional diperlukan 4.7 juta ton Biodiesel pada 2025, yang berarti diperlukan 8-27 pabrik Biodiesel komersial berkapasitas 30.000-100.000 ton/tahun untuk dapat memenuhi target tahun 2009. (*/rsd)