Kepala Badan Litbang, Achmad Suryana di Jakarta, Rabu , menyatakan, selain itu Badan Litbang juga menganggarkan lima juta dolar AS untuk kerjasama penelitian dengan Lembaga Riset Padi Internasional (IRRI).
"Upaya ini dilakukan untuk merespon terhadap perubahan iklim yang diperkirakan membawa dampak terhadap sektor pertanian," katanya.
Menurut dia, selama lima tahun IRRI juga akan mencarikan donatur guna mendapatkan dana sebesar yang telah dikeluarkan Indonesia tersebut untuk membiayai kerjasama penelitian padi kedua lembaga tersebut.
Sebelumnya mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim dalam orasinya di depan pejabat lingkungan Deptan menyatakan, anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk penelitian padi sangat kecil.
Berbeda dengan negara-negara lain, tambahnya, dana untuk penelitian padi diberikan dalam jumlah yang cukup besar sehingga mereka mampu menghasilkan varietas padi unggulan.
Selain itu, menurut dia, minimnya anggaran penelitian tersebut mengakibatkan para peneliti Indonesia memilih untuk bekerja bagi lembaga penelitian lain seperti IRRI di Philipina.
"Saat ini diperlukan riset padi yang mampu menghasilkan varietas tahan kekeringan, tahan banjir maupun toleran terhadap garam untuk mengantisipasi perubahan iklim," katanya.
Menanggapi hal itu, Achmad Suryana menyatakan, bahwa peneliti Indonesia yang melakukan riset di IRRI saat ini bukan karena mereka "lari" tapi memang dikirim Badan Litbang untuk melakukan kerjasama penelitian kedua negara bertetangga itu.
Dia menyatakan, saat ini lembaga yang dipimpinnya telah menghasilkan varietas padi yang tahan terendam air selama dua minggu bahkan untuk varietas yang tahan panas maupun kekeringan sudah dilepas. (*/rsd)