"Kalau ada yang bilang pesantren itu sumber teroris saya pikir mereka tidak tahu pesantren itu apa," katanya saat mengunjungi Pesantren Al Falah Abu Lam U, bersama 17 petinggi militer AS, di Kabupaten Aceh Besar, Kamis.
Kunjungan tersebut sebagai bentuk silaturrahmi dan studi banding dengan melihat secara dekat kehidupan para santri dan membandingkannya dengan kehidupan santri di dua negara Islam yaitu Afghanistan dan Pakistan yang lebih dulu dikunjungi rombongan jenderal Amerika Serikat tersebut.
Menurut Sean, para jenderal militer AS itu merasa senang dapat berkunjung ke salah satu pesantren moderen di Aceh dan mereka melihat lembaga pendidikan Islam tersebut lebih maju serta didominasi santri perempuan berjumlah 300 orang, sedangkan santri laki-laki hanya 200 orang yang dinilai sebagai nilai tambah bagi perempuan Aceh.
Perempuan Aceh, katanya, tidak ingin ketinggalan dalam mencari ilmu baik ilmu pengetahuan maupun agama. Hal ini merupakan kesempatan baik bagi Aceh untuk berkembang.
Soal tindakan terorisme, Sean Stein, mengatakan tidak boleh selalu dikaitkan dengan Islam karena Islam bukan sumber teroris.
"Saya pikir satu masalah saat ini, ada banyak orang Amerika yang tidak mengerti dengan Islam dan banyak juga orang Indonesia yang tidak mengerti Amerika dan ajaran kristen," tambahnya.
Dikatakannya, untuk menghapus stigma tersebut, sudah menjadi tugas semua pihak menjembatani perbedaan antara dua negara yang berbeda agama guna mengatasi kesalahpahaman komunikasi dan menumbuhkan pengertian, terutama tentang ajaran Islam yang selama ini salah diartikan.
Dia juga menambahkan, sebenarnya hubungan AS dengan Indonesia sangat baik dan semakin kuat, di samping itu negara adidaya tersebut juga ingin membantu Indonesia disegala bidang seperti kesehatan anak, pemberantasan KKN dan pertumbuhan ekonomi.
"Tujuan kami sama dengan tujuan pemimpin Indonesia, yakni untuk membangun Aceh yang lebih baik," kata diplomat tersebut. (*/lpk)