< >

Satu Tahun Gempa Diperingati Dengan Refleksi Spiritual

Minggu, 20 Mei 2007 08:20
Kapanlagi.com - Peringatan satu tahun gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diisi dengan refleksi spiritualitas untuk memakmanai kembali makna musibah gempa.

"Spiritualitas dapat dibangkitkan melalui nilai-nilai budaya yang menjadi pegangan masyarakat dalam menjalani kehidupan," kata Dewan Penasehat Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta, Abdul Muhaimin dalam acara Refleksi Satu Tahun Gempa di Yogyakarta, Minggu malam.

Ia mengatakan, perbedaan suku, agama, budaya, bangsa, dan status sosial jangan dijadikan pemicu konflik, melainkan sebagai rahmat.

Menurut dia, tidak ada kejadian yang tidak memiliki makna spiritual, pasti terkandung hikmah di balik segala musibah.

"Bencana gempa dan meletusnya Gunung Merapi bukanlah bencana bagi agama tertentu, tetapi bagi seluruh umat," katanya.

Segala permasalahan harus diselesaikan dengan duduk bersama, saling menghargai, tidak sekedar memakai akal dan otot, namun memakai hati.

Acara tersebut diselenggarakan oleh FPUB Yogyakarta, dan dihadiri ratusan korban gempa dan merapi yang menjadi binaan forum tersebut.

Selain itu, acara ini juga dihadiri para pemuka dari agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, Konghuchu, dan aliran kepercayaan.

Refleksi satu tahun gempa ini diwarnai dengan unsur-unsur budaya spiritual seperti penampilan musik `Hadroh` dari umat agama Islam, Bajan dari umat agama Hindu, dan Santilaras dari umat Katolik.

Selain untuk memperingati satu tahun gempa, kata dia, acara ini juga bertujuan untuk mengenang peristiwa unjukrasa damai sejuta manusia di Yogyakarta pada 20 Mei 1998.

"20 Mei juga diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional bangsa Indonesia, sehingga diharapkan dengan momen ini bangsa Indonesia bisa bangkit kembali dari keterpurukan," kata dia. (*/rit)