Pada 11:15 am (0315 GMT), kontrak berjangka utama minyak jenis ringan di New York untuk pengiriman Juli naik 13 sen menjadi US$65,90 per barel dari US$65,77 pada perdagangan terakhir di AS.
Minyak Laut Utara Brent untuk pengiriman Juli juga naik 20 sen menjadi US$70,80. Di London, harga Brent Rabu menyentuh US$70,84, level tertinggi sejak Agustus lalu.
Departemen Eneri AS (DoE) mengatakan dalam laporan mingguannya bahwa cadangan bensin naik 1,5 juta barel selama sepekan sampai 18 Mei, namun tetap "di bawah rata-rata tingkat pasokan terendah".
Pasar terikat dengan harga bensin menjelang puncak permintaan musiman dari akhir bulan ini ketika banyak warga AS yang berkendaraan selama liburan.
"Menurut laporan (pasokan-red) untuk minyak mentah sangat lemah dan untuk bensin sangat menanjak. Meskipun demikian, persediaan bensin naik, permintaan sangat kuat dan situasi tidak terlalu banyak menguntungkan," kata pimpinan strategi komoditas di Mitsui Bussan Futures, Tetsu Emori dari Tokyo.
Analis dari Global Insight, Simon Wardell, mengatakan cadangan bensin naik lebih cepat selama Mei dan Juni namun fasilitas pengolahan di AS yang berusia tua mengganjal persediaan.
Persediaan bensin AS naik selama tiga pekan terakhir setelah terus turun selama tiga bulan karena permasalahan di industri pengolahan yang berlanjut.
Emori mengatakan tingkat produksi di industri pengolahan di AS saat ini tidak cukup untuk memenuhi permintaan.
"AS harus meningkatkan impor bensin mereka sebanyak mungkin dari tempat seperti Rusia," kata Emori.
Sementara itu, Menteri Energi Aljazair, Chakib Khelil, menentang peningkatan produksi OPEC untuk membantu menyeret harga turun dengan mengatakan bahwa kenaikan harga saat ini bukan diakibatkan oleh masalah pasokan.
Kepada kantor berita APS, dia mengatakan: "kenaikan harga minyak saat ini bukan hasil dari terganggunya pasokan."
"OPEC tidak dapat mengintervensi permasalahan seperti memangkas produksi di Nigeria dan memutuskan meningkatkan produksi negara anggotanya," kata Khelil yang juga wakil presiden negara pengekspor minyak (OPEC).
Nigeria, produsen minyak terbesar di Afrika, kehilangan sekitar seperempat produksinya di areal produksi minyak di selatan.
Pada saat yang sama, perhatian terhadap Iran meningkat terkait dengan penolakan permintaan PBB untuk menghentikan pengkayaan uranium.
Tehran terus melakukan pekerjaan itu, kata lembaga pengamat nuklir milik PBB dalam laporannya Rabu yang memungkinkan terbukanya pintu untuk sanksi baru.
"Iran tidak menunda kegiatan yang terkait dengan pengkayaan uranium," kata Lembaga Energi Atom Internasional. (*/rit)