Ia kepada di Yogyakarta, Jumat mengatakan untuk mendeteksi serinci itu diperlukan observasi langsung dari jaringan yang rapat.
"Untuk memperoleh data rinci, harus ada alat pendeteksi pada setiap lima sampai 10 kilometer," katanya.
Sehingga gelombang pasang yang melanda Pantai Pandansimo, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Jumat (18/5) lalu tidak dapat dideteksi rinci dari kantor BMG di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.
Pihaknya selama ini mengandalkan kerjasamanya dengan `World Meteorological Organization (WMO)`. Akses divac yang dihubungkan kepada WMO Australia telah menganalisa adanya potensi gelombang laut setinggi 1,5 meter sampai 2,5 meter di laut selatan Pulau Jawa.
Menurut dia, gelombang setinggi itu terhitung `biasa` pada saat peralihan musim seperti sekarang ini.
Tetapi, alat tersebut tidak mampu mendeteksi fenomena alam lainnya yang datang bersamaan, sehingga mengakibatkan kerusakan pada bangunan di sekitar pantai.
"Saat itu terjadi superposisi, yakni angin dari Australia yang bertiup dengan kecepatan 27 knot, gaya gravitasinya tinggi dan sejajar dengan matahari, bulan serta bumi," kata dia.
Ia juga mengatakan, sebuah alat bernama `Automatic Weather System` (pemantau cuaca otomatis) yang dipasang di wilayah Prambanan, Kabupaten Sleman dan di Taman Pintar di Kota Yogyakarta tidak berfungsi optimal, karena tidak ada sinergi di antara keduanya.
Sementara itu, menanggapi kebutuhan alat pendeteksi gelombang pasang di pantai selatan, Sekda Bantul Drs Gendut Sudarto mengatakan pihaknya tidak mampu membeli alat baru untuk menyempurnakan sistem peringatan dini terhadap tsunami yang sudah terpasang di sepanjang pantai selatan Bantul.
"APBD Bantul tidak mampu membeli alat yang lebih canggih, karena harus mengeluarkan Rp11 miliar per unitnya agar dapat lebih sensitif terhadap gelombang," katanya.
Karena itu, pihaknya sedang menjalin kerjasama dengan Jerman guna mengatasi hal tersebut, dan diharapkan tahun ini sudah mulai dikerjakan. (*/cax)








