"Laporan terkini dari 33 provinsi menunjukkan hanya 76,59% dari 4,8 juta ibu hamil yang dilayani tenaga kesehatan terlatih, jadi 1,69 juta diantaranya belum terlayani," kata Direktur Bina Kesehatan Ibu Departemen Kesehatan Sri Hermianti di Jakarta, Jumat.
Hal itu, menurut dia, terjadi karena jumlah sarana dan tenaga kesehatan terlatih khususnya di daerah tertinggal dan terpencil sangat terbatas.
Selain itu, ia menambahkan, faktor penyebab lainnya adalah kemiskinan, tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah, kondisi sosial budaya dan perilaku masyarakat yang tidak mendukung.
Kondisi yang demikian, menurut dia, menyebabkan angka kematian ibu di daerah terpencil dan tertinggal serta di seluruh Indonesia umumnya masih tetap tinggi hingga saat ini.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005 menyebutkan angka kematian ibu scara nasional sebesar 262 per 100 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi dari negara tetangga terdekat seperti Thailand (129/100 ribu), Malaysia (39/100 ribu) dan Singapura (6/100 ribu).
Guna mengatasi masalah itu, Direktur Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Sri Astuti Suparmanto mengatakan, pemerintah berusaha melakukan intervensi dengan menambah jumlah sarana dan tenaga kesehatan terlatih di daerah-daerah dengan angka kematian ibu tinggi.
Penambahan sarana kesehatan, katanya, antara lain dilakukan dengan membangun pos-pos kesehatan desa (Poskesdes) di setiap desa melalui program Desa Siaga.
"Tahun ini pemerintah juga akan merekrut 30 ribu bidan dan menempatkannya di 48 ribu Poskesdes yang ada di desa-desa Siaga," katanya.
Sementara guna mencegah migrasi bidan desa ke kota, ia melanjutkan, pemerintah juga mengupayakan pemberian insentif bagi bidan desa yang bertugas di daerah terpencil dan membina kemitraan bidan-dukun.
"Saat ini insentif yang besarnya Rp2,5 juta per bulan baru diberikan kepada bidan desa yang bertugas di daerah sangat terpencil saja, ke depan akan diupayakan supaya diberikan pula pada bidan desa di daerah terpencil," jelasnya.
Di samping itu, kata Sri Hermianti, penyuluhan berlanjut juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan ibu hamil akan pentingnya pemeliharaan dan pemeriksaan kesehatan selama kehamilan dan pascapersalinan.
"Kita menjalin kerja sama dengan Aliansi Pita Putih Indonesia dan PKK untuk melakukan penyuluhan berkelanjutan di tingkat akar rumput," demikian Sri Hermianti. (*/cax)








