Direktur Keuangan Antam Kurniadi Atmosasmito di Jakarta, Kamis mengatakan, gas yang ada akan digunakan memenuhi kebutuhan bahan bakar buat pembangkit listrik.
"Pemakaian gas jauh lebih murah ketimbang BBM," katanya.
Menurut dia, pemakaian gas akan mengurangi biaya produksi feronikel (FeNi) dari US$12 per pon menjadi enam dolar AS per pon.
Saat ini, lanjutnya, Antam tengah berbicara dengan sejumlah produsen gas antara lain Tangguh (Papua), Senoro (Sulteng), atau Sengkang (Sulsel).
Selain gas, alternatif lain adalah pembangkit berbahan bakar air yang sumbernya berasal dari Danau Poso atau batubara dari Kalimantan.
Kurniadi mengatakan, dana US$15 juta kemungkinan akan diambilkan dari internal perseroan yang asetnya per Maret 2007 mencapai Rp2 triliun.
Sebelumnya, Direktur Pengembangan Antam Dharma Ambar mengatakan, pihaknya sudah meminta alokasi gas Tangguh yang berasal dari "train" ketiga ke Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) dan Ditjen Migas Departemen ESDM.
Menurut dia, volume gas yang diinginkan sekitar 150 ribu ton per tahun. (*/rsd)