"Kekhawatiran bahwa Beijing akan mengalami kelesuan ekonomi pasca 2008 adalah tidak beralasan," kata kepala Institut Ekonomi Industri pada Akademi Pengetahuan Sosial China, Lu Zheng seperti dikutip China Daily, di Beijing, Sabtu (02/06).
Lu mengatakan, Tokyo dalam penyelenggaraan Olimpiade musim panas tahun 1964 justru memperoleh keuntungan dalam mendorong perekonomiannya dan menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua hingga kini.
Demikian pula Korea Selatan, bergabung denga Organisasi Ekonomi dan Kerjasama Pembangunan, sebuah kelompok negara berkembang, setelah Seoul menjadi tuan rumah Olimpiade 1988.
Antara 2002 dan Agustus 2008, ketika ekonomi dimulai, Beijing akan melakukan investasi 268,6 miliar yuan untuk arena olahraga, jalan raya dan jalan tol, serta pencegahan polusi.
Investasi yang terkait dengan penyelenggaraan Olimpiade 2008 hanya menyerap 0,59 persen dari investasi China tahunan, dan ia mengatakan bahwa dorongan ekonomi nasional tidak akan terlalu berlebihan nilainya.
"Sebagai tuan rumah Olimpiade 2008 tidak secara signifikan mendorong ekonomi China, sebab tidak akan diikuti dengan penurunan, dan China tidak akan menjadi sebuah negara sedang berkembang.
Oh Jong Nam, seorang ketua penyelenggaran OLimpiade Seouk 1988 dan profesor Unibersitas Waseda di Tokyo mengatakan, Olimpiade 2008 akan membantu China melanjutkan pertumbuhan ekonomi dan sejumlah perusahaan China.
"China saat ini adalah kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia, tapi akan menjadi kekuatan kedua setelah 2008," kata Oh. (*/rit)