< >

Pertikaian Lebanon Sengsarakan Pengungsi Palestina

Minggu, 03 Juni 2007 06:52
Kapanlagi.com - Berjejal dalam gedung-gedung sekolah dengan makanan yang sangat sedikit dan fasilitas sanitasi yang buruk, kehidupan ribuan pengungsi Palestina, yang menghindari pertikaian di Lebanon utara, menjadi semakin sengsara.

Samar Fedda (19 tahun), salah seorang pengungsi itu misalnya, terpaksa harus berdesakan dalam satu tempat tidur dengan ibu, ayah dan tiga orang saudaranya, di sebuah ruang kelas, yang juga dihuni oleh sejumlah pengungsi lainnya, di tempat penampungan pengungsi Beddawi, yang dikelola oleh UNRWA (Badan PBB untuk urusan Pengungsi Palestina).

Menurut seorang petugas UNICEF (Dana PBB untuk Anak-anak), sebuah gedung sekolah dihuni oleh sekitar 5.000 pengungi, dan satu ruang kelas yang kecil ditempati oleh lebih dari 20 orang.

Para pengungsi Palestina yang telah puluhan tahun tinggal di penampungan pengungsi Nahr Al Bared, Lebanon utara, terpaksa lari ke Beddawi (juga tempat penampungan pengungsi Pelestina), untuk menghindari gempuran tentara Lebanon yang mengejar kelompok yang dinamakan Fatah Al Islam.

Setidaknya 79 orang, kebanyakan penduduk sipil, tewas dalam pertikaian antara tentara Lebanon yang menggunakan peralatan artileri berat, dengan kelompok yang tidak banyak dikenal itu.

Beddawi yang berpenduduk 16.000 orang kini menjadi terlalu padat dengan adanya pengungsi baru. "Sekitar 36.000 orang berjejal dalam area seluas dua kilometer persegi," kata Yussef Assad, kepala Palang Merah Palestina di Lebanon utara.

"Di Nahr Al Bared kami sekeluarga tinggal di apartemen dengan tiga kamar tidur, dan menghadap laut. Disini, kami tidak bisa bernafas," kata Samar Fedda.

Di petang hari, sering terjadi keributan karena makanan yang dibagikan kepada pengungsi tidak cukup. "Lihat, makanan sudah habis. Kita harus menunggu kedatangan pengiriman distribusi makanan berikutnya," ujar seorang relawan palang merah, sambil memperlihatkan kantong plastik yang sudah kosong.

Issam (21 tahun), pemuda pengungsi Palestina, hanya bisa terdiam menyaksikan hal itu.

"Kami adalah rakyat yang telah berulangkali dihina, dan setelah itu, orang-orang Barat heran dan bertanya-tanya mengapa anak-anak muda bersedia meledakkan diri mereka sendiri," katanya, ketika berbicara tentang mereka yang melakukan bom bunuh diri.

"Rasa putus asa menyuburkan terorisme. Semua kesengsaraan ini merupakan lahan yang subur bagi kelompok seperti Fatah Al Islam," katanya. (*/rit)