Salah satu dokter yang menangani kedua korban, dr Subagyo di Malang, Sabtu, mengungkapkan, tindakan yang dilakukan pertama pada korban, terutama bocah Choirul Anwar adalah difokuskan pada jalan nafas. Setelah itu, baru dilanjutkan pada pernafasan hingga sirkulasi mengenai kerja dari jantung.
"Memang saat ini bisa dikatakan masa kritis sudah lewat, namun masih ada beberapa ancaman, salah satunya infeksi. Semuanya hingga saat ini masih dilakukan dengan baik," ujarnya saat mendampingi kunjungan dari DPD di ruang 13 RSSA Malang.
Lebih lanjut dokter ahli bedah jantung itu menjelasakan, peluru yang bersarang di dada Choirul masih belum dikeluarkan. Pasalnya kondisi korban belum memungkinkan untuk dilakukan operasi pengambilan.
"Ancaman selanjutnya, kami belum berani untuk menyatakan ini sudah beras, tapi sudah dilakukan untuk mengatisipasinya," terangnya.
Wakil direktur RSSA, dr Respati menambahkan, untuk korban Erwanto (21) pecahan peluru masih ada yang bersarang di dalam perutnya. Namun untuk serpihan yang lain sudah berhasil diangkat pada operasi pertama.
"Semuanya memang ada resikonya. Apalagi jika dekat dengan syaraf lalu diambil begitu saja, bisa jadi akan membikin lumpuh," paparnya.
Menurut dia, yang terpenting adalah menyelamatkan hidup korban terlebih dahulu. Untuk operasi merupakan tindakan selanjutnya yang mudah dilakukan.
Tindakan yang dilakukan adalah menghentikan pendarahan pada luka ditimbulkan. Setelah itu, lubang cerna diperbaiki dan dialihkan lalu ditutup kembali.
"Dalam istilah kedokteran disebut Colostomy, yaitu membuat saluran untuk buang air melalui perut korban, agar tidak mengganggu pencernakan. Pasalnya, usus korban terkena peluru dan belum sembuh," tuturnya. (*/rit)