< >

Pasca Libur Nasional, Perputaran Uang di Sumbar Naik

Minggu, 03 Juni 2007 16:22
Kapanlagi.com - Perputaran uang di Sumbar akibat arus balik dari Jakarta diprediksi meningkat terkait tiga hari libur nasional Juni 2007, ditandai pesawat ke dan dari Jakarta-Padang cukup padat, sementara Padang ke Jakarta juga tinggi.

"Kendati liburan singkat, tetap dimanfaatkan orang rantau mudik dan jumlah yang masuk ke Sumbar cukup tinggi dibanding yang ke luar guna menikmati liburan bertepatan Hari Raya Waisak," kata pengamat ekonomi Sumbar Prof. Elfindri di Padang, Minggu (3/6).

Kendati Sumbar baru saja dilanda bencana gempa bumi dan abrasi pantai, arus kunjungan wisatawan ke provinsi itu meningkat. Dibanding bulan sebelumnya, arus kunjungan wisatawan relatif kurang terkait masih adanya rasa cemas terjadinya gempa susulan.

"Memasuki Juni 2007, banyak wisatawan lebih berminat memilih Sumbar sebagai satu tujuan wisata terutama orang rantau guna memastikan dan melihat secara dekat kondisi familinya yang dilanda bencana," katanya.

Tingginya minat orang rantau menghabiskan masa liburan mereka, diyakini meningkatkan perputaran uang di provinsi ini. Tanpa merinci, ia menjelaskan, perputaran uang berasal dari aktivitas wisatawan yang membeli makanan, barang keperluan korban yang tertimpa bencana dan penginapan serta souvenir untuk dibawa balik ke Jakarta.

Di Pantai Padang misalnya, Net (40) pedagang kaki lima mengatakan omsetnya meningkat tiap libur nasional. Sejak Jumat sore hingga minggu libur nasional Juni 2007, dagangannya berupa sate, rujak, jagung panggang dan pisang panggang laris. Minuman kelapa muda juga cukup dinikmati pengunjung yang datang berombongan, keluarga serta berpasangan. Pengunjung yang menikmati pantai Padang sejak hari pertama libur nasional itu berasal dari Aceh, NTT, Bengkulu, Jambi, Jakarta, Riau dan Medan serta Malaysia.

"Pengunjung Pantai Padang bakal terus ramai terutama pada sore hingga malam hari, sebab memandang debur ombak pada malam hari jauh lebih menarik ketimbang siang hari," katanya.

Bagi Miswardi (43) - mantan sopir angkot suami Net - lebih memilih menemani isterinya berjualan di pantai Padang karena pendapatan berdagang jauh lebih banyak dibanding supir angkot.

"Setahun terakhir saya bertahan menemani isteri berjualan di pantai Padang, alhammdulillah, pendapatan kami lumayan bahkan bisa membiayai dua anak yang sedang sekolah," katanya dengan mata berbinar gembira.

Di tengah rasa cemas, takut diterjang abrasi dan tsunami, Net masih tetap bertahan berjualan minuman dan makanan ringan di pantai Padang.

"Sekitar seminggu lebih kita tidak berani berjualan di Pantai Padang, karena takut terjadi abrasi lagi, dan kini mulai berani berjualan apalagi pada libur nasional," katanya. (*/boo)