Libur Nasional, Pendapatan Sektor Jasa di Jogja Naik 30 Persen
Kapanlagi.com - Pada libur panjang akhir pekan diperkirakan pendapatan sektor jasa di Yogyakarta mengalami kenaikan rata-rata 30 persen dibanding hari-hari biasa, kata seorang pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)."Pada libur panjang akhir pekan ini memang mendatangkan keuntungan ekonomi khususnya untuk sektor jasa di Yogyakarta seperti hotel, transportasi, obyek wisata dan rumah makan dengan kenaikan pendapatan rata-rata 30 persen dibanding pada hari-hari biasa," kata Ahmad Ma'ruf SE MSi, pakar dan pengamat ekonomi dari UMY, Minggu (3/6). Namun, menurut prediksi dia, jumlah uang yang dibelanjakan warga dari luar daerah yang berlibur atau berkunjung ke Yogyakarta selama liburan panjang ini nilainya tidak signifikan yaitu hanya berkisar kurang dari lima persen. "Mereka selama di Yogyakarta nilai uang yang dibelanjakan untuk membeli hasil-hasil produksi setempat seperti barang kerajinan dan pakaian misalnya, rata-rata kurang dari lima persen," katanya. Menurut Ma`ruf, selama libur panjang akhir pekan memang banyak orang dari luar daerah berlibur atau mengunjungi Yogyakarta, tetapi pengeluaran mereka yang banyak hanya untuk konsumsi, akomodasi dan transportasi. "Sedangkan untuk membeli barang atau produk lokal seperti barang kerajinan maupun pakaian, nilai uang yang mereka keluarkan relatif kecil, yakni kurang dari lima persen," kata dia. Ia mengatakan dari pengalamannya melakukan penelitian di Jakarta, beberapa waktu lalu, pada libur panjang akhir pekan tercatat 70 persen pengunjung mal hanya melihat-lihat, tidak berbelanja. Menurut dia, kenyataan seperti itu juga dialami kota-kota besar lainnya di antaranya Bandung, Surabaya, Denpasar dan Yogyakarta pada setiap libur panjang termasuk libur panjang akhir pekan. Karena itu, kata Ma'ruf, uang yang mereka belanjakan di luar keperluan konsumsi, akomodasi dan transportasi jumlahnya atau nilainya sangat kecil, sehingga kurang signifikan dalam ikut menggerakkan sektor ekonomi berbasis produksi seperti usaha kerajinan dan industri kecil masyarakat setempat. "Sektor usaha kerajinan dan industri kecil tersebut justru mengalami kerugian pada setiap libur panjang, karena pemilik usaha itu harus membayar uang lembur pekerjanya, sementara barang produksi mereka yang terjual jumlahnya relatif sedikit, bahkan terkadang tidak laku sama sekali," katanya. Ia mengatakan pada setiap libur panjang termasuk libur panjang akhir pekan, peningkatan pendapatan atau keuntungan hanya dinikmati kalangan penyedia jasa akomodasi, transportasi, obyek wisata dan jasa konsumsi termasuk rumah makan. "Sedangkan mereka yang menggeluti sektor produksi lokal seperti barang kerajinan dan pakaian, tidak pernah ikut menikmati, justru sering rugi," kata Ahmad M'ruf. (*/boo) |