Wakil Kepala BP Migas A Muin di Jakarta, Senin mengatakan, tingkat produksi tersebut dengan memanfaatkan fasilitas produksi yang telah ada di sekitar Lapangan Banyuurip.
"Produksi 10.000 barel per hari tersebut memang masih sementara, namun tingkat itu sudah memperhitungkan skenario akhir yang kami pilih," katanya.
Menurut dia, sejumlah fasilitas produksi yang bisa dimanfaatkan mulai dari pipa, kilang pengolahan, dan fasilitas peninjeksian kembali gasnya.
Muin mengatakan, memang ada sejumlah skenario lain yang mampu berproduksi lebih besar dari 10.000 barel per hari, namun waktu produksinya menjadi mundur.
"Opsi lain memang bisa lebih besar. Tapi, kalau mundur sampai 2009, lebih baik nunggu "full development" (pengembangan normal) yang saat ini juga telah berjalan secara paralel," ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga menyiapkan pemakaian truk apabila opsi percepatan produksi yang diambil ternyata bergeser waktunya karena sejumlah hal seperti lambannya pembebasan tanah.
"Skenario truk bisa dipakai pada tahap awal produksi. Namun, dengan tetap memperhitungkan kerusakan jalan dan arus lalu lintas," katanya.
Mengenai produksi gas Blok Cepu, Muin mengatakan, pihaknya masih menunggu hingga cadangan gasnya mencapai dua triliun kaki kubik (TCF).
Sekarang ini, lanjutnya, cadangan gas Cepu masih sekitar 1,3 TCF.
"Cadangan dua TCF merupakan skala ekonomi untuk bisa dikembangkan," katanya. (*/rit)