Putri korban, Dwi Winarti (41), dalam keterangannya di Mapolres Kediri, Senin mengungkapkan, sejak Minggu (3/6) sore, bapaknya yang membuka usaha sebagai bandar judi dadu itu pergi meninggalkan rumah di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo.
"Yang saya tahu bapak mau menggelar judi dadu di pertunjukan musik dangdut di Lapangan Ringin Rejo," ujarnya.
Di tempat itu, korban ditemani Ks (40) dan Mi (47), sesama bandar judi yang juga tetangga korban.
Ketika hendak menggelar usaha perjudiannya itu, ketiganya didatangi tiga orang yang mengaku sebagai anggota Polri.
Kemudian ketiganya dimasukkan ke dalam mobil Isuzu Panther dan dan diajak berputar-putar. Di tengah perjalanan, salah seorang pelaku meminta "uang damai" agar usahanya berjalan mulus.
Salah satu pelaku meminta uang Rp5 juta, tapi oleh Ks ditawar Rp1 juta. Lalu pelaku tersebut menurunkan permintaannya menjadi Rp4 juta dan Ks pun menaikkan tawarannya menjadi Rp2 juta.
Sumilih yang saat itu duduk bersebelahan dengan Mi, tiba-tiba jatuh pingsan ketika kendaraan yang ditumpangi bersama ketiga pelaku melintas di Perempatan Kemuning, Kota Kediri.
Kawanan pelaku pun kebingungan sehingga terpaksa mereka mengantarkan pulang Sumilih, Ks, dan Mi.
"Begitu tiba di halaman rumah, bapak sudah tidak bernafas lagi," kata Dwi Winarti yang ikut membopong bapaknya dari halaman menuju rumah.
Ia mengaku, jika sebelumnya orang tuanya itu menderita penyakit jantung. Kemudian penyakit itu kambuh saat diinterogasi di dalam mobil oleh tiga kawanan pelaku pemerasan yang mengaku sebagai anggota polisi.
Kepala Satuan Reskrim Polres Kediri AKP Didit Prihantoro menegaskan, kawanan pelaku tersebut bukan anggota Polri alias polisi gadungan.
"Kalau pun mereka polisi, tentu tidak akan melakukan pemerasan di dalam mobil, tapi dimintai keterangan dulu di kantor polisi lalu ditahan," ujarnya.
Sampai saat ini jajaran Satuan Reskrim Polres Kediri sedang melakukan pengejaran kepada kawanan pelaku yang menggunakan kendaraan Isuzu Panther berwarna biru. (*/cax)