Besar peningkatan perolehan devisa tersebut berkat harga mata dagangan bernilai seni itu jauh lebih mahal dari sebelumnya, demikian laporan yang dikutip dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, Selasa.
Tempat lilin dibuat dengan desain terkini dari besi dan logam oleh perajin Bali masih laris ke pasaran ekspor, terutama ditujukan kepada konsumen di negara kawasan Eropa, Amerika Serikat dan Asia Pasifik.
Ekspor aneka barang kerajinan besi dan logam masih mengalami kenaikan, padahal sejumlah pengusaha setempat pernah merasa was-was akibat membanjirnya barang sejenis buatan China ke pasaran ekspor dengan harga lebih murah.
"Kami khawatir dengan adanya pasar bebas, dimana pengusaha China gencar memasarkan mainan anak-anak ke pasaran internasional dengan harga jauh lebih murah," kata Made Putra, pengusaha mainan anak-anak, di Denpasar.
Kekhawatiran pengusaha mainan anak-anak yang menggunakan bahan baku dari besi dan logam untuk matadagangan ekspor dari Bali itu, karena adanya persaingan yang ketat dari barang sejenis buatan China, dengan harga murah.
Namun mainan anak-anak buatan perajin di Bali, yang memanfaatkan desain (rancang bangun) yang dipadukan antara keinginan pasar dengan yang ada di Pulau Dewata, sehingga memiliki daya tarik tersendiri.
Ini salah satu penyebab ekspor aneka kerajinan berbahan baku besi dan logam Bali meningkat dalam perolehan devisanya, kata Putra, sambil menunjukkan mata dagangan berupa baling-baling dan boneka manusia badut dicat warna-warni.
Tempat kaca yang dibuat sedemikian rupa dari besi, tempat lilin dan sebagainya, diproduksi untuk bisa mengisi pasar yang bagus di Eropa, seperti di Italia, Jerman dan Spanyol, termasuk di kawasan Amerika dan Australia, kata dia.
Menyinggung kebutuhan bahan baku besi dan baja sementara ini tidak ada masalah, karena impor cukup lancar. Sesuai catatan Bank Indonesia Denpasar impor besi dan baja selama dua bulan pertama 2007 bernilai US$436 ribu. (*/rsd)