"Banyaknya arus uang panas yang masuk ke China saat ini jelas merupakan langkah antisipatif negara-negara kapitalis yang mulai merasa gerah dengan perkembangan ekonomi China yang begitu pesat," kata Pengamat Ekonomi asal Universitas Gajah Mada (UGM), Revrison Baswir, di Jakarta, Selasa.
Dia berpendapat, aliran uang panas yang jumlahnya sangat besar masuk ke China saat ini sama seperti apa yang terjadi di Asia Tenggara sebelum kawasan ini terkena krisis moneter.
Jika memang pada akhirnya aliran uang panas yang membanjiri China saat ini berdampak buruk bagi perekonomian negara tersebut dalam waktu dekat, Revrison mengatakan, sudah pasti Indonesia akan terkena dampaknya.
"Dampak terparahnya bisa jadi krisis ekonomi kembali menimpa Indonesia," ujar dia.
Menurut dia, sistem ekonomi Indonesia belum kuat menahan dampak yang mungkin timbul jika perekonomian China tergoncang.
Saat ditanya kemungkinan perekonomian China runtuh karena arus uang panas yang masuk ke negara tersebut melebihi perdagangan atau investasi asing langsung, dia mengatakan, tinggal menunggu siapa yang kuat dan berani menggelontorkan uang lebih banyak.
Saat ini, jumlah cadangan devisa China telah tercatat naik sebesar US$135,7 miliar, dan hanya US$62,3 miliar yang terkait dengan perdagangan atau investasi asing langsung. (*/rsd)