"Dengan adanya kunjungan Wapres beserta rombongan ke China diharapkan akan mampu mencapai total volume perdagangan kedua negara yang sebelumnya telah dicanangkan pemimpin kedua negara," kata Kabid Ekonomi KBRI Beijing Andriana Supandy, di Beijing, Rabu.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao pada April 2005 di Jakarta, telah mencanangkan target total volume perdagangan kedua negara sebesar US$30 miliar pada tahun 2010 melalui kerangka "Kerjasama Strategis" antara kedua negara.
Inti dari kerangka kerjasama itu adalah perlunya memperluas dan memperdalam area kerjasama di berbagai bidang.
Dalam lima tahun terakhir, perdagangan kedua negara menunjukkan perkembangan yang sangat positif, yaitu tumbuh 18,6 % selama tahun 2001 hingga 2006.
Total volume perdagangan kedua negara pada 2006 sudah mencapai 19,06 miliar dolar AS atau naik tiga kali lipat dari 6,7 miliar dolar AS tahun 2001.
Andriana mengatakan, sejumlah pertemuan bidang ekonomi yang akan dilakukan Wapres Jusuf Kalla selama berada di China antara lain pertemuan dengan BUMN China Railway Enggineering Corporation (CREC) mengenai rencana investasi BUMN tersebut membangun jalur kereta api di Kalimantan Tengah (Kalteng), sepanjang 517 kilometer.
Wapres Jusuf Kalla, kata Andriana, juga akan melakukan pertemuan dengan China National Offshore Corporation yang akan membahas rencana pengiriman gas alam cair (LNG) dari Provinsi Papua ke Provinsi Fujian, China, sebanyak 2,6 juta metrik ton.
"Kerjasama itu akan berlangsung selama 25 tahun mulai tahun 2009 dan kerjasama itu dilakukan mengingat kebutuhan LNG di Fujian diperkirakan terus meningkat," katanya.
Disamping itu, katanya, Wapres Jusuf Kalla juga akan mengadakan pertemuan dengan Sino-Hydro, BUMN China, untuk membicarakan kerjasama dan mempelajari sistem pengairan dan irigasi di China.
Pembicaraan penting lain bidang ekonomi dalam kunjungan ke China, adalah pembangunan pembangkit tenaga listrik di Indonesia sebesar 10 ribu mega watt, mengingat banyak perusahaan China yang memenangkan tender dalam pembangunan proyek itu.
"Dengan banyaknya investasi dan kerjasama perdagangan antara kedua negara diharapkan target volume perdagangan seperti yang telah dicanangkan para pimpinan negara melalui `Kerjasama Strategis` bisa tercapai," kata Andriana. (*/rsd)