Kadin: Pengembangan Batik Memerlukan Stragedi Besar
Kapanlagi.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pengembangan batik memerlukan strategi besar (grand strategy) dan terpadu sebagai warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan dan memberi dampak ekonomi pada masyarakat. Ketua Yayasan Kadin Indonesia, Iman Sucipto Umar, yang memprakarsai berdirinya Museum Batik Indonesia, di Jakarta, Rabu, mengatakan batik memiliki potensi untuk dikembangkan, bahkan bersaing di kancah internasional. "Namun, tidak cukup sampai di situ. Harus ada strategi besar yang perlu ditetapkan agar ke depan batik dapat menjadi industri kreatif yang mampu mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi secara signifikan dan menjadi `Indonesia Heritage` yang diakui dunia internasional," ujarnya. Ia mengatakan saat ini banyak kelemahan dalam pengembangan batik di Indonesia, meskipun hampir di seluruh propinsi memiliki motif dan desain batik sendiri. Iman Sucipto Umar yang juga Ketua LP3E (Lembaga Pengembangan, Pengkajian dan Penelitian Ekonomi) Kadin Indonesia, mencontohkan masih ada kendala dalam sumber daya manusia (sdm) batik baik dari jumlah perajin maupun pemanfaatan teknologi. "Banyak perajin batik sudah tua. Selain itu, kita perlu memiliki pusat pengkajian dan pengembangan desain batik. Museum Batik Indonesia di Pekalongan rencananya membuat pusat desain tersebut," katanya. Ia mengatakan untuk memasyarakat batik di dalam negeri maupun internasional, desain dan motif batik harus terus diperbaharui sesuai selera masyarakat. Saat ini, kata dia, kontribusi ekspor batik yang tercatat hanya US$10-15 juta . Namun, jumlah tersebut belum termasuk ekspor yang dilakukan oleh turis asing yang membawanya lewat koper. "Prospek batik sangat bagus, apalagi jika melihat ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) termasuk batik di dalamnya yang terus meningkat dalam empat tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan 8,4 % per tahun," katanya. Pada tahun 2006 ekspor TPT mencapai angka sekitar US$9,4 miliar , sedangkan kontribusi ekspor batik diperkirakan hanya sekitar US$10 - 15 juta . Indonesia sendiri termasuk pemain TPT dunia dengan pangsa pasar sebesar 3,8 %. Untuk membantu meningkatkan citra batik sebagai warisan budaya Indonesia di dunia, Museum Batik Indonesia bekerjasama dengan kadin dan pemerintah juga berencana menyelenggarakan Pekan Batik Internasional 2007 di Pekalongan. Pada Pekan Batik Internasional yang berlangsung 1-5 September 2007 itu, tidak hanya menampilkan pameran dan penjualan, serta pageralan busana batik oleh perancang nasional, tapi juga seminar dan diskusi mengenai peningkatan teknologi proses membatik, serta pertemuan saudagar batik se-Indonesia. (*/rsd) |