< >

BPLS Terus Optimalkan Kinerja 'Spillway'

Selasa, 12 Juni 2007 06:14
Kapanlagi.com - Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) terus mengoptimalkan kinerja spillway (saluran pembuangan air lumpur ke Sungai Porong), yang merupakan salah satu agenda BPLS mengevaluasi penanganan lumpur agar bisa mengalir ke Sungai Porong.

Humas BPLS, Ahmad Zulkarnain di kantornya di Desa Mindi, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Senin, mengemukakan, hingga kini spillway masih dinilai membahayakan masyarakat yang tinggal di sekitarnya, seperti masyarakat Desa Mindi, Pejarakan dan Besuki.

"Apalagi ke-tiga desa ini tidak masuk dalam peta terdampak lumpur Lapindo," katanya.

Menurut dia, beberapa waktu lalu pembuangan air lumpur ke Sungai Porong sempat mengalami kesulitan. Saat itu lumpur yang dialirkan dari pusat semburan hingga masuk ke "Pond" (kolam penampungan) 5 masih dalam keadaan panas, sehingga pompa secara otomatis mati.

Menyikapi ini, BPLS mengupayakan untuk mempercepat lumpur agar segera dingin ketika masuk ke pipa, yakni dengan menyiapkan enam mesin pompa air yang disedot dari Sungai Porong, kemudian dicampur dengan air lumpur di spillway.

"Dengan cara ini diharapkan perjalanan air lumpur menuju Sungai Porong lancar," paparnya.

Saat ini pihaknya masih menunggu pengkajian tim ahli BPLS seperti ITB dan ITS dalam mengevaluasi spillway. Jika nantinya kajian itu dinilai tidak layak diterapkan, maka akan dicarikan alternatif lain.

"Akan ada evaluasi menyangkut metode pembuangan air lumpur ke Sungai Porong, untuk sementara BPLS masih mengoptimalkan kinerja `spillway`, dan upaya pengaliran lumpur ke Sungai Porong sampai saat ini masih berjalan lancar," ujarnya.

Selain optimalisasi spillway, BPLS juga merealisasi "overflow" lumpur, yakni semacam upaya mengoperasikan pintu saluran buka tutup yang diletakkan antara Sungai Porong dan batas spillway.

Dengan demikian, jika sewaktu-waktu lumpur meluber, maka pembatas pintu buka tutup akan dibuka, dan lumpur akan mengalir dengan sendirinya.

Bahkan, untuk mengalirkan air lumpur ke Sungai Porong agar terus lancar, BPLS menyiapkan 12 "long head excavator" di sisi barat yang posisinya sejajar ke selatan atau dari pusat semburan hingga ke Pond 5.

"Long head" akan mengaduk-aduk lumpur, selanjutnya airnya dialirkan ke Sungai Porong, katanya.

Upaya ini, tutur Zulkaranain, terus disosialisasikan BPLS pada masyarakat di tiga desa dekat spillway itu. Karena selama ini metode tersebut dinilai masyarakat terlalu berbahaya, sehingga mereka khawatir lumpur kembali meluber ke desa mereka seperti beberapa waktu lalu.

Warga Desa Pejarakan, Ahmad Ali (55) mengemukakan, kekhawatiran warga terhadap luberan lumpur selalu muncul setiap harinya. Mereka khawatir jika tiba-tiba lumpur meluber menggenangi desanya.

Menurut dia, jika lumpur benar-benar kembali meluber dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, karena desanya tidak masuk peta terdampak. Untuk itu, ia mengharapkan agar pemerintah memperbarui peta terdampak dan memasukkan desanya menjadi daerah terdampak lumpur.

Beberapa waktu lalu Desa Mindi dan Pejarakan serta Besuki sempat terkena luberan lumpur dari spillway dan tanggul di Pond 4 dan 5. Tepatnya pada Oktober tahun lalu. Bahkan saat itu, kondisi lumpur di Pond 5 dengan Desa Besuki dan Pejarakan tinggal 20 cm dari atas tanggul.

Sementara di spillway, juga mengalami hal yang sama. Lumpur semakin tinggi dan pompa pembuangan ke Sungai Porong tidak optimal, sehingga antara lumpur yang masuk ke spillway dengan lumpur yang keluar ke Sungai Porong tidak imbang.

Akhirnya areal persawahan, perkebunan dan kuburan Desa Mindi terendam. Warga pun meminta BPLS meninggikan tanggul di sekitar tempat tinggal mereka.

Menyikapi kekhawatiran warga itu, hingga saat ini BPLS terus berupaya mengalirkan lumpur ke selatan menuju spillway. Karena warga tak ingin upaya BPLS itu jadi awal petaka, dimana tanggul-tanggul tak dapat menahan lumpur sehingga meluber ke permukiman warga.

Kawasan Mindi memang berbatasan langsung dengan tanggul penampungan lumpur. Hingga saat ini, ketinggian tanggul mencapai sekitar tujuh meter, dan setidaknya harus ditinggikan lagi sampai 15 meter.

Dengan demikian, jika tanggul cincin jebol atau overtopping, tanggul Mindi diharapkan bisa menahan luberan lumpur.

Selain itu, warga juga meminta BPLS secara intensif memberikan informasi dini kepada warga soal kemungkinan bencana. "Kami harus diberi informasi ilmiah soal dampak dan kemungkinan penanganan lumpur," ujar Ali, berharap. (*/rsd)