< >

Lulus, Siswa MA Renokenongo Corat-coret Baju dengan Lumpur

Rabu, 13 Juni 2007 06:03
Kapanlagi.com - Corat-coret baju dengan spidol disaat siswa lulus sekolah merupakan hal biasa. Namun corat- coret baju dengan lumpur, baru kali ini terjadi. 18 siswa kelas III Madrasah Aliyah (MA) Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo yang lulus Ujian Nasional (Unas) 2007, melakukannya, Selasa.

Kepala Sekolah MA, Khalid bin Walid Desa Renokenongo, Ali Mas`ad SAg ditemui di sekolahnya, mengemukakan, tahun ini muridnya yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan empat perempuan semua dinyatakan lulus.

Lulusan terbaik di raih oleh Ahmad Muzakki (19) dengan nilai 21,25 sedang lulusan terendah diraih Slamet Riyadi (19) dengan nilai 17,65, jelasnya.

"Muzakki merupakan siswa berprestasi yang tinggal di pengungsian Pasar Baru Porong, namun semangat untuk tetap belajar dan mencapai yang terbaik masih mampu diwujudkan," paparnya, dengan nada bangga.

Aksi coret-coret dengan lumpur merupakan usulan siswa sendiri. Ia mengaku, agar corat coret ini bisa dijadikan kenangan tentang masa-masa sulit menghadapi Unas di tengah bencana lumpur Lapindo.

"Awalnya, mereka ingin coret-coret dengan cat dan spidol, namun para guru melarang, karena seragamnya nanti tidak bisa dimanfaatkan lagi, kemudian siswa-siswa pun mengusulkan untuk menggunakan lumpur," ungkapnya.

Ali mengaku, sebelum terjadi bencana lumpur, siswa MA Khalid bin Walid sebanyak 100 siswa. Namun sejak terjadi lumpur siswa banyak yang pindah, karena tempat tinggalnya pindah ke daerah lain, sehingga jumlahnya menjadi 65 siswa.

Meski demikian, sekolah ini akan terus dipertahankan, karena sekolah MA Khalid bin Walid merupakan satu-satunya yang tertinggal di Desa Renokenongo. Bahkan pada tahun ajaran baru mendatang, sekolah tetap akan membuka pendaftaran siswa baru.

"Bahkan saat ini sudah ada empat calon siswa yang mendaftar. Namun, jika pemerintah memberikan tempat baru dan menyarankan agar segera direlokasi, maka pihak sekolah akan senang sekali dan langsung merelokasi sekolah," ujarnya.

Ia mengaku sampai saat ini masih belum ada anjuran apapun atau penyediaan tempat relokasi dari pemerintah. Namun demikiamn pihak sekolah terus mempertahankan hingga sekolah ini benar-benar tidak bisa dipakai, keluhnya.

Siswa MA Khalid bin Walid Renokenongo dengan kelulusan terbaik, Ahmad Muzakki menuturkan, dirinya sangat bersyukur karena meraih nilai Unas tertinggi di sekolahnya.

Ia mengaku tidak mungkin meneruskan sekolah ke jenjang perguruan tinggi, mengingat orang tuanya masih tinggal di pengungsian dan tidak mampu membiayai kelanjutan pendidikannya, akibat terjadi bencana lumpur.

Ia hanya bisa berharap, agar nilai terbaiknya bisa mengantarkan dia untuk mendapat pekerjaan yang layak. "Saya terus berusaha semaksimal mungkin untuk prestasi, meski harus belajar di tengah-tengah pengungsian. Saya juga berharap kalau setelah lulus ini dapat pekerjaan untuk membantu orang tua," tuturnya. (*/rsd)