Pada pukul 11.10 waktu Singapura (03.10 GMT), kontrak minyak utama di New York Mercantile Exchange (NYME), light sweet crude, untuk pengiriman Juli turun US$0,28 menjadi US$65,07 per barel dari US$65,35 dalam perdagangan Selasa malam.
Sementara minyak mentah Brent Laut Utara untuk pengiriman Juli turun US$0,22 menjadi US$68,57 per barel.
Steve Rowles, analis CFC Seymour di Hong Kong mengatakan, pasar tertahan sejenak sampai pengumuman laporan mingguan cadangan energi AS, Rabu siang ini.
"Saya pikir, saat ini, pasar sungguh ingin melihat sejumlah data," kata Rowles.
Fokus akan diarahkan pada stok bensin dimana, kata Rowles, "seharusnya naik dan mendorong harga turun."
Bahan bakar premium masih menjadi fokus selama musim berkendara, dimana warga AS menikmati liburan panjangnya dengan berkendara di jalan-jalan raya sehingga permintaan bahan bakar mencapai puncaknya.
Rowles mengatakan, laporan yang muncul kemarin, dari Badan Energi Internasional (IEA) bisa membalikkan sejumlah isu yang menekan penurunan harga.
IEA, yang bertindak sebagai penasehat kebijakan energi bagi 26 negara anggotanya, menaikkan proyeksinya atas pertumbuhan kebutuhan energi minyak global tahun ini menjadi 2%.
IEA memperingatkan bahwa pasokan pasar minyak akan menjadi ketat dalam paruh kedua tahun ini.
Ketidakstabilan di negara kaya minyak Nigeria membantu memberikan kontribusi bagi kenaikan harga.
Kelompok bersenjata yang menguasai sumber daya minyak di wilayah Niger Delta Nigeria selatan, Senin, melepaskan 12 sandera pekerja yang mereka culik dan sandera, kata polisi di negara itu.
Mulai awal tahun lalu, ketika penculikan marak terjadi di wilayah itu, sekitar 200 warga asing telah ditahan. Sebagian besar dilepaskan dengan selamat setelah disandera selama beberapa hari hingga beberepa pekan. (*/cax)