Pengasuh Pontren Darul Inayah KH Asep Ismail usai diterima berdialog dengan pihak IPDN mengaku sangat Kecewa karena niatnya untuk melakukan tabayun dengan Inu Kencana tidak terlaksana, meski sudah ditunggu selama dua jam.
Atas ketidakhadiran Inu itu, dia mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan mengerahkan massa yang lebih banyak. "Aksi akan terus dilanjutkan sampai Inu Kencana berhenti mengoceh dan dapat membuktikan apa yang ditulisnya dan meminta maaf kepada umat Islam atas tulisannya itu," tandasnya.
Mengenai hasil pertemuan dengan pihak IPDN, dia mengatakan, dalam pertemuannya dengan pihak IPDN yang diwakili Siswoyo bagian Administrasi IPDN, menyebutkan bahwa Ny Endang Tri Setiasih tidak pernah menginjak Al Quran dengan bugil seperti yang ditulis Inu Kencana dalam buku "IPDN Undercover".
Aksi unjukrasa yang berlangsung sejak pukul 10.30 WIB bubar setelah terdengar adzan dzuhur, para pengunjukrasa kemudian berbondong-bondong menuju mesjid raya IPDN untuk menunaikan sholat berjamaah.
Sebelumnya dilaporkan, ratusan santri dari Pondok Pesatren Darul Inayah, Bandung, berunjukrasa di halaman kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Rabu sekitar pukul 10.30 WIB.
Para pengunjukrasa menuntut agar buku "IPDN Undercover" karya dosen IPDN Inu Kencana ditarik dari peredaran, karena isinya telah menyesatkan dan meminta agar Inu menunjukan siapa pelaku penginjak Al Quran seperti yang ditulisnya di halaman 218.
Dalam aksi itu, para pengunjukrasa selain melakukan orasi, merentangkan poster yang isinya mengutuk pelaku penginjak Al Quran, juga pengunjuk rasa membakar patung Inu Kencana.
KH Asep Ismail salah seorang pimpinan pondok pesantren itu mengatakan pihaknya mengutuk keras pelaku penginjak Al Quran seperti yang ditulis Inu Kencana dalam buku IPDN Undercover.
"Tunjukan kepada saya siapa pelaku penginjak Al Quran itu, kalau Inu tidak bisa menunjukan siapa pelakunya, berarti Inu telah berbohong dan harus minta maaaf kepada umat Muslim," tandasnya. (*/cax)