Pengusaha Sambut Positif Pengoperasian KA Petikemas Bangil-Surabaya
Kapanlagi.com - Eksportir Jatim menyambut positif pengoperasian layanan angkutan petikemas melalui jalur Kereta Api (KA) Bangil-Surabaya, karena layanan itu bisa mendukung kelancaran arus petikemas dari dan ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. "Pengoperasian angkutan petikemas Bangil-Pasuruan merupakan alternatif yang baik untuk mendukung kelancaran arus petikemas dari dan ke Tanjung Perak," kata Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim, Isdarmawan Asrikan, di Surabaya, Rabu. Layanan angkutan petikemas Bangil-Surabaya telah diresmikan pengoperasiannya oleh Bupati Pasuruan Jusbakir Aldjufri (12/6). Pengoperasian layanan itu, ditandai dengan pelepasan 12 gerbong petikemas produk kayu dari PT Kutai Timber Indonesia (KTI) Probolinggo. Isdarmawan menuturkan, sejak luapan lumpur di Porong, Sidoarjo, arus petikemas dari dan ke Pelabuhan Tanjung Perak yang melintasi kawasan tersebut dengan rata-rata mencapai 1.000 twenty equivalent units (teus) per hari, sering mengalami hambatan. Hambatan itu, menurut dia, akibat padatnya arus lalu lintas di Jalan Raya Porong, menyusul ditutupnya ruas jalan tol Porong dampak luapan lumpur Lapindo. Bahkan, terkadang arus angkutan petikemas harus memanfaatkan jalur alternatif dengan jarak tempuh lebih jauh, jika luapan lumpur di Porong meluber hingga ke jalan raya setempat. "Kalau sudah begitu, biaya pengangkutan petikemas yang harus ditanggung pengusaha juga membengkak," paparnya. Karena itu, jika kini telah dioperasikan layanan pengangkutan petikemas dari dan Pelabuhan Tanjung Perak melalui jalur KA, maka hal itu merupakan alternatif yang baik. "Silahkan saja pelaku usaha yang akan memanfaatkan alternatif layanan itu," ujarnya. Hal senada juga diungkapkan Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jatim, Bambang Trisulo bahwa pengoperasian layanan itu tentu menjadi alternatif yang baik dalam pendistribusian barang, khususnya dari pelabuhan ke gudang importir. "Dengan dioperasikannya layanan itu maka pasokan bahan baku industri dari impor juga menjadi lebih lancar," ucapnya. Dari nilai impor Jatim pada 2006 yang mencapai US$6,86 miliar , 70 % diantaranya merupakan bahan baku industri, sedangkan selebihnya merupakan barang yang sifatnya konsumtif. (*/rsd) |