Pejabat tinggi pemerintah Irak menyatakan serangan atas Masjid Emas Samarra adalah "berita terburuk bagi Irak" saat pemimpin tertinggi Syiah negeri itu mendesak Syiah tidak membalas serangan suku kecil Arab Sunni.
Tentara Amerika Serikat menyatakan prihatin dan mengatakan memantau peristiwa sesudah serangan tersebut, yang menghancurkan dua menara keemasan masjid itu.
Pemboman mesjid tersebut tahun lalu, yang merusak kubah keemasan terkenal masjid itu, tapi tidak merusak menaranya, merupakan titik balik bagi Irak, yang melepaskan kekerasan aliran dan membunuh puluhan ribu orang.
Karena takut akan pertumpahan darah di Bagdad, pemerintah menyatakan akan memberlakukan larangan keluar rumah di kota itu mulai pukul 15.00 (18.00 WIB) sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Saksi menyatakan sejumlah besar tentara Irak mengalir ke jalanan Bagdad.
Di tengah pemboman 2006 di Samarra, pemimpin Irak sering menyuarakan ketakutan bahwa serangan serupa dapat mendorong negeri itu ke tepi perang saudara aliran habis-habisan.
Ulama Agung Ayatollah Ali Sistani, tokoh tertinggi agama Syiah Irak, menyeru pengendalian diri.
"Dia mengutuk serangan itu dan mendesak ketenangan serta tidak melakukan pembalasan terhadap Sunni," kata jurubicara Sistani, Hamed Khafaf, kepada kantor berita Inggris Reuters.
Pejabat Syiah menuduh kelompok Islam Sunni Alqaida sebagai pelaku serangan tersebut.
Tak jelas betul bagaimana menara itu diledakkan, tapi penduduk menyatakan terjadi bentrok di daerah tersebut antara kelompok bersenjata dengan polisi sebelum ledakan terjadi pada sekitar pukul 09.00 (12.00 WIB).
"Ini kejahatan, yang bertujuan menciptakan ketegangan aliran," kata Saleh Haidari, kepala bagian dana Syiah Irak, badan utama keagamaan, kepada Reuters.
Kelompok Syiah setia keapada ulama anti-Amerika Serikat Moqtada Sadr mendesak pendukungnya tetap tenang dan menuduh pejuang bahan menempatkan peledak untuk meruntuhkan kedua menara itu.
Setelah pemboman pada 2006, kelompok bersenjata dari pejuang Tentara Mahdi, setia kepada Sadr, menyasar anggota masyarakat Arab Sunni Irak di Bagdad dalam serangan pembalasan.
Dalam pernyataannya, Sadr mengatakan, "Saya tidak percaya Sunni atau Muslim melakukan ini."
Mesjid Emas adalah satu dari empat besar masjid suci Syiah di Irak.
Samarra, di utara Bagdad, adalah kota berpenduduk sebagian besar Sunni.
Masjid utama lain berada di kota suci Syiah Najaf dan Karbala serta di kebupaten Kadhimiya di Bagdad, juga dihuni terutama warga Syiah.
Dua di antara 12 imam utama Syiah dimakamkan di masjid Samarra itu, yakni Imam Ali Hadi, yang meninggal pada 868 dan puteranya, imam ke-11, Hasan Askari, yang meninggal tahun 874.
Pemerintah Irak pimpinan Syiah menuding Alqaida sebagai pelaku serangan pada 22 Februari tahun lalu, saat pejuang memasuki Masjid Emas itu dinihari dan meledakkan bom, yang menghancurkan kubahnya, salah satu yang terbesar di dunia Islam.
Polisi dan pejabat tinggi pemerintah menyatakan Kementerian Dalam Negeri, yang dikuasai Syiah, bertanggung jawab atas keamanan di masjid tersebut.
Polisi menyatakan kementerian itu mengambil alih tugas tersbeut dari pasukan keamanan setempat pada April.
"Kami tahu bahwa dua pekan lalu ada juga usaha menjadikannya sasaran, tapi digagalkan," kata pejabat tersebut.
Larangan keluar rumah juga diberlakukan di Samarra, tempat sejumlah penentang bentrok dengan polisi dalam kemarahan atas pemboman tersebut.
Pemboman Samarra 2006 mengangkat katup ketegangan, yang sudah mendidih di antara magian besar Syiah dengan bagian kecil Arab Sunni.
Sebelum pemboman tersebut, kekerasan aliran meningkat.
Tapi perhatian masih pada pemberontakan Arab Sunni terhadap pasukan keamanan Amerika Serikat dan Irak, yang meledak sesaat sesudah serbuan pimpinan negara adidaya itu pada 2003 menumbangkan Presiden Saddam Hussein dan memungkinkan Syiah memerintah untuk pertama kali di Irak. (*/rsd)